Sabtu, 05 Desember 2009

True Love - Chapter 2


--cerita sebelumnya--



Kulangkahkan kakiku menuju sebuah toko bunga, untuk menemui seorang temanku, Ino. Gadis berambut kuning panjang ini segera menghampiriku dan menanyakan kabarku, serta kelancaran hubunganku dengan Naruto. Aku hanya bisa menghela nafas berat. Untuk saat ini, bukan itu yang hendak kubicarakan. Namun, soal Sasuke…

Aku pun menceritakan kejadian siang tadi pada Ino. Kejadian saat Sasuke membentakku. Kejadian saat aku membandingkan antara Sasuke dan Naruto. Kejadian saat Sasuke memelukku dan mengatakan alasan mengapa selama ini ia mengataiku bodoh. Dan juga, kejadian saat jantungku berdegup kencang.

Satu respon Ino yang tak bisa kupercaya setelah aku selesai menceritakannya adalah, ia tertawa. Aku menggerutu dalam hati. Sama sekali tak ada yang lucu dalam ceritaku. Mengapa ia tertawa? Ohh… Sepertinya aku salah orang. Seharusnya aku menceritakan ini semua pada Hinata, yang lebih bisa menghargai dan memberikan solusi terbaik mengenai masalahku kali ini. Bukan Ino yang tak pernah menanggapi semua hal dengan serius.

“Sakura… Sakura…” ujar Ino seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin kesal melihat Ino yang seakan terlihat meledekku. “Terserah kau mau percaya atau tidak… Tapi aku rasa, kau sudah jatuh cinta pada Sasuke…” ucapnya seraya sesekali tertawa kecil.

Kubelalakkan mataku. Ucapan Ino kali ini begitu tidak masuk akal. Kugelengkan kepalaku cepat, menunjukkan bahwa aku sama sekali tak sependapat dengannya. “Mana mungkin… Kau tau sendiri kan, siapa yang kusukai?”

Ino menghentikan tawanya, dan mengerling padaku, “Naruto…?” Kuanggukkan kepalaku pelan─namun entah mengapa justru terlihat sedikit ragu. Ia kembali tergelak dan berkata, “Sakura… Mungkin saja, perasaanmu pada Naruto hanyalah rasa suka sebatas sahabat. Tak lebih dari itu. Tapi, perasaanmu pada Sasuke, adalah rasa suka yang tak kau sadari.”

Aku tertegun. Berusaha mencerna ucapan Ino. Dan sedetik kemudian, aku menggumam lirih─mencoba tak mempercayainya. “Itu konyol…”

^o^

Hari ini… 14 Februari…

Aku telah bertekad kuat, untuk memberanikan diri─menyatakan perasaan suka yang selama ini kupendam pada Naruto. Bagaimana pun juga aku tak bisa terus-terusan membiarkan perasaan ini terkunci rapat, tanpa pernah dibuka sedikit pun. Aku harus membukanya! Ya. Dengan kunci─menyatakan perasaanku tersebut pada orang yang kusukai.

Kuremas bungkusan coklat berwarna merah jambu, di tanganku. Tak bisa kupungkiri bahwa aku memang benar-benar gelisah saat ini. Selalu terbesit dalam benakku, jika ia tidak menerima pernyataan cintaku. Oh… mungkin ia akan menjauhiku. Sungguh, aku tak ingin jika hal itu terjadi. Aku masih ingin lebih lama berada di dekatnya. Aku ingin terus berada di sampingnya, meski ia tidak menerima perasaanku nantinya.

“Sakura-chan!”

Aku mendongak, saat seseorang memanggil namaku. Satu sosok yang sangat kukenal, telah berdiri di depanku dengan senyum ceria─seperti biasa. Kugigit bibir bawahku. Dilema yang begitu besar menyelimutiku. Aku merasa keberanianku mulai menciut saat menyadari kehadirannya, saat ini.

“Hei, hei. Sakura-chan?”

Aku tersadar dalam lamunan saat Naruto melambaikan tangannya di depan mataku. Kutatap kedua mata birunya yang menampakkan raut heran.

“Kau melamun? Tak seperti biasanya.” ujarnya sembari tertawa kecil. Mataku sama sekali tak beralih darinya. Perlahan, kuangkat bungkusan coklat─yang kupegang erat sedari tadi, tepat di hadapannya. Ia tersenyum lebar, dan menerima bungkusan coklat tersebut. Ia langsung membukanya dan memakannya begitu saja. “Waah… Enak! Sakura-chan memang top!” ujarnya seraya mengangkat satu jempolnya.

Aku tersenyum. Dalam hati, kukumpulkan segala keberanianku untuk menyatakan perasaanku. “Naruto… Aku ingin kau tau satu hal.” tawa Naruto terhenti seketika. Kulirik sekilas wajahnya yang mulai tampak serius. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, dan kutarik nafasku perlahan. “Sebenarnya selama ini aku─”

“Aku menyukaimu, Sakura.”

Eh?

Kuangkat wajahku─cepat, dan kutatap kedua matanya─berharap menemukan kebenaran di sana, atas perkataan yang ia ucapkan tadi. Dan tak bisa kutepis, bahwa ia memang mengatakan ini dari dalam hatinya. Tersirat kejujuran yang begitu besar dalam sorot matanya. Kututup mulutku─tak percaya. Saat ini aku menyadari satu hal. Ternyata rasa sukaku selama ini, tidak bertepuk sebelah tangan.

“Naruto… Aku…”

Lain kali hati-hati ya?”

Maafkan aku, Sakura.”

Aku tak pernah sadar bahwa ini sangat menyakitimu...”

Aku tak ingin kecerobohanmu itu menjadi sesuatu yang buruk padamu.”

Bagai suatu reklame singkat, bayangan serta perkataan Sasuke tempo hari terngiang kembali dalam benakku. Aku tak mengerti, gerangan apa yang tiba-tiba membuatku memikirkannya. Dan yang lebih membuatku tak mengerti, sepertinya aku mulai ragu dengan perasaan sukaku pada Naruto, kali ini.

“Sakura?” Naruto memanggilku. Kutatap wajahnya yang tampak menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku. Lidahku seakan beku. Aku tetap bertahan dalam kediamanku. Otakku berdebat keras.

Mungkin saja, perasaanmu pada Naruto hanyalah rasa suka sebatas sahabat. Tak lebih dari itu. Tapi, perasaanmu pada Sasuke, adalah rasa suka yang tak kau sadari.”

Satu kalimat dari Ino tersebut, terus berputar dalam otakku. Mungkinkah perasaanku padanya adalah rasa suka yang tak kusadari? Sasuke…

Aku tersadar dalam lamunan, saat tiba-tiba Naruto mengembalikan bungkusan coklat itu kembali ke tanganku. “Sepertinya akan lebih baik jika coklat ini kau berikan pada Sasuke.” ujarnya sembari tertawa hambar. “Ya kan, Sakura-chan?”

Naruto…

Naruto menggaruk rambutnya yang tidak gatal, seraya berkata, “Aku hanya memakannya satu. Masih banyak bagian untuk Sasuke. Ayo cepat berikan padanya, Sakura-chan!”

Air mata yang sedari tadi kubendung, mulai jatuh satu persatu. Menetes bersama rasa terima kasihku atas keterbukaan dan kerelaan hatinya. Aku pun segera berbalik, dan beranjak dari tempat itu. Dan sebelum aku berbalik, Naruto membisikkan sebuah kalimat yang justru terdengar layaknya mantra bagiku. Sebuah kalimat yang berhasil menampar pesimisku. Sebuah kalimat yang berhasil membangkitkan semangatku.

Ganbatte, Sakura-chan!”

^o^

Kulewati koridor-koridor kelas dengan cepat. Yang ada di pikiranku saat ini hanya satu. Berlari, berlari, dan terus berlari… Tak kuhiraukan panggilan orang-orang yang kesal karena tak sengaja kutabrak.

Aku harus sesegera mungkin menemukan Sasuke.

Langkahku terhenti saat menemukan sosoknya di bawah sebuah pohon yang telah tertimbun salju di setiap rantingnya. Di hadapannya tampak seorang gadis yang sedang tertunduk seraya memegang sebuah coklat.

Sembari mengatur nafasku yang masih memburu tak karuan, kutatap mereka berdua─nanar. Dalam hati, terbesit sebuah sesal, saat mengetahui bahwa ternyata coklat yang kupegang ini bukanlah coklat pertama yang akan diterimanya nantinya.

Namun hatiku terasa sedikit lega, saat menyadari Sasuke memasukkan kedua tangannya di saku celananya, sembari menggeleng pelan. Gadis yang berada di hadapan Sasuke itu pun semakin tertunduk dalam, dan kemudian beranjak dari hadapan Sasuke.

Kuhela nafas berat. Mungkinkah nasibku akan sama dengan gadis itu?

Dengan langkah pelan namun pasti, kuberanikan diri melangkah mendekati Sasuke. Ucapan semangat dari Naruto terus terngiang di telingaku. Aku harus berani dan optimis.

Langkahku semakin dekat dengannya, dan dia sedikit terkejut saat melihatku berjalan mendekatinya. Kuhentikan langkahku. Dan kuangkat bungkusan coklat yang sedari tadi kupegang, tepat di hadapannya. “Terimalah!” Dengan sedikit membungkuk─dan memejamkan mata, aku berkata, “Aku menyukaimu, Sasuke-kun!”

Hening.

Tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut Sasuke. Kubuka mataku perlahan. Kenyataan pahit mulai menghampiriku. Sekuat mungkin kutahan air mata yang sedari tadi ingin menetes jatuh. Aku tak ingin Sasuke melihatku menangis.

“Sakura?” Satu patah kata dari Sasuke sedikit memberiku secercah harapan. Kuangkat wajahku dan kutatap kedua mata hitamnya. “Mengapa?” tanyanya kemudian.

Eh?

“Bukankah kau telah memberikan coklat itu pada Naruto?” Aku terhenyak ketika Sasuke menanyakan hal itu. Ternyata dia melihatku memberikan coklat itu pada Naruto tadi.

Aku menggeleng pelan, dan kutatap Sasuke lembut. “Ini coklat untukmu, Sasuke-kun…” Ia masih diam terpaku, menatapku─tak percaya. Namun sesaat kemudian, ia menarikku dalam pelukannya. Aku tersentak.

Apakah ini jawaban dari pernyataan perasaan sukaku?

“Bodoh…” ucap Sasuke lirih. Perlahan aku tersenyum, dan membalas pelukan Sasuke. Sasuke sama sekali tak berubah… Ia masih seperti yang dulu. Yang selalu mengakhiri ucapannya dengan kata bodoh. Yang tak pernah bisa bersikap romantis. Yang tetap dingin…

Namun… aku menyukainya… Aku menyukai setiap sifatnya.

Karena aku sadar satu hal.

Perasaan sukaku padanya…

Adalah cinta yang sesungguhnya.

Adalah cinta sejatiku.

True love.

.

.

F.I.N



Artikel Terkait