Sabtu, 29 Mei 2010

Memories of the Winter - Chapter 2

--cerita sebelumnya--


Chapter 2 (A Painful Answer)




"Sa-Sakura, kau yakin ingin pulang sendiri?" tanya Hinata untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir ini. Tersirat kecemasan yang begitu besar dalam kedua mata lavendernya. Bagaimana tidak? Hinata telah mendapatkan amanat dari kedua orang tuanya untuk menjaga Sakura selama gadis itu satu sekolah dengannya. Dan ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Sakura. Orang tuanya pasti akan benar-benar marah.

Sakura mengangguk cepat. "Aku bisa pulang sendiri, Hinata. Ayolah… Aku bukan anak kecil lagi. Aku ingin menjelajah sekolah ini terlebih dahulu."

"Ba-Bagaimana kalau aku temani?" ucap Hinata menawarkan diri. Namun, gadis di hadapannya tetap bersikeras. Ia terus meyakinkan Hinata bahwa ia akan baik-baik saja. Hinata pun akhirnya menyerah dan pulang tanpa bersama Sakura.

Sakura menatap punggung Hinata yang mulai menjauh. Sejurus kemudian, ia segera berbalik melangkah menuju suatu tempat. 'Lapangan basket'. Naluri terus mendesaknya untuk terus melangkah menuju tempat itu. Jujur, ia sendiri juga tak mengerti mengapa tekadnya begitu kuat untuk menemui lelaki bermata onyx yang telah memperingatkannya tadi. Uchiha Sasuke…

Langkahnya terhenti ketika Sasuke baru saja berbelok─keluar dari lapangan basket. Sakura terus memperhatikan lelaki yang semakin berjalan mendekat tersebut. Lelaki itu tampaknya tak menyadari kehadiran Sakura. Pandangannya terus tertuju ke arah jendela yang ia lewati. Kedua bola mata hitamnya menerawang salju yang turun di luar sana. Hingga saat jarak di antara mereka hanya terpaut beberapa langkah, Sasuke akhirnya menyadari kehadiran Sakura. Ia pun menghentikan langkahnya dan diam terpaku, seraya terus memandangi sosok gadis di hadapannya. Raut terkejut, canggung, heran, terpeta jelas dalam wajahnya.

Sakura mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. Tak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar gugup kali ini. Walaupun berat, ia mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum pada Sasuke. Kemudian ia bungkukkan sedikit badannya, "Konichiwa Sasuke-san." Ia kembali menegakkan badannya untuk melihat perubahan ekspresi Sasuke. Perasannya begitu tak menentu, ketika ia mulai melihat sorot mata penuh kebencian dalam mata onyx milik pemuda di hadapannya.

Lama mereka terdiam. Hingga kemudian kata singkat 'Hn' meluncur dari mulut sang Uchiha. Lelaki itu kembali berjalan─melewati Sakura. Ia terus melangkahkan kakinya meski Sakura terus memanggilnya dari belakang.

"A-Apa kau masih mengingatku?" satu pertanyaan yang terlontar dari bibir Sakura, sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya. Sakura menggigit bibir bawahnya ketika keheningan mulai muncul di antara mereka. Gadis itu terus menunggu jawaban dari mulut sang Uchiha. Hati kecilnya tak pernah berhenti berharap supaya kenangan menyakitkan di masa lalu akan segera berakhir. Dan Sasuke akan menganggapnya 'ada' kembali.

Setelah beberapa saat hening, akhirnya Sasuke mulai mengeluarkan suara. Dengan tajam, ia berkata, "Aku rasa tidak…" Ia pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura yang masih berdiri terpaku.

Sakura menatap kepergian Sasuke─nanar. Sungguh bukan tiga patah kata tersebut yang ia minta. Bukan pula sikap dingin tersebut yang ia dambakan. Yang ia harapkan hanya satu…

Kembali seperti dulu.

Ya. Sebelum Itachi meninggal. Sebelum Sasuke berubah. Sebelum Sasuke membencinya. Gadis itu sangat ingin kembali ke masa lalu yang indah. Masa-masa bersama Sasuke dalam riang canda yang tak berujung. Bersama lelaki yang dicintainya, tanpa pernah merasakan sakitnya hati seperti ini…

Bulir-bulir air mata terus mengalir dari kedua mata emeraldnya. Bercampur dengan seonggok rasa sakit yang begitu mendalam. Hatinya bagai tersayat menatap kenyataan yang sangat menyakitkan. Perasaannya tak menentu. Otaknya terus memberontak mengapa takdir begitu kejam padanya.

Tak ada yang bisa ia lakukan.

selain menangis, menangis, dan terus menangis…


Sasuke terus membiarkan kakinya melangkah tanpa arah. Pikirannya terus tertuju pada Sakura. Sesungguhnya ia benar-benar menyesal telah bertindak seperti itu di hadapan gadis berambut merah jambu tersebut. "Sial! Mengapa aku berkata seperti itu!" geram Sasuke menyesal. Ia mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk mulutnya yang selalu berkata tajam pada gadis itu.

-flashback-

"Kau akan keluar dalam cuaca seburuk ini? Kau gila." ujar Sasuke mencemooh. Ia tak habis pikir mengapa kakaknya bisa berpikiran sependek itu. Selalu ingin pergi di saat yang tidak tepat. Diluar salju turun dengan lebatnya. Angin pun tampak bertiup kencang. Tak jarang mereka mendengar jendela rumah mereka, terketuk oleh ranting-ranting pohon yang tertiup angin. Bagaimana mungkin seseorang bisa berpikiran untuk keluar rumah di tengah badai kecil seperti ini.

Itachi menundukkan kepalanya dalam. Kedua alisnya bertaut satu sama lain. Tampaknya ia masih mempertimbangkan konsekuensi yang akan didapatnya, jika ia memutuskan niat awalnya untuk keluar. "Tapi aku sudah berjanji untuk menemuinya malam ini." ucapnya lirih.

Sasuke menarik senyum sinisnya, serta merta memandang sang kakak dengan tatapan meremehkan, "Lantas? Kau hendak mengorbankan nyawamu demi janji─yang mungkin bisa kau tebus kapan saja─itu?"

"Aku hanya bisa menebusnya malam ini." tegas Itachi. Matanya menatap tajam ke dalam mata onyx Sasuke.

Sasuke melenguh. Ia semakin tak mengerti mengapa kakaknya begitu keras kepala hanya karena hal ini. Ia pun menarik nafas berat, "Baiklah. Aku rasa kau benar-benar sudah gila kali ini." Kakinya melangkah menuju dapur dan mengambil sebuah minuman kaleng dari lemari es. Ia kembali melangkah ke arah ruang tamu─tempat Itachi yang tampaknya masih berdebat dengan pikirannya untuk 'pergi' atau 'tidak pergi'. Sasuke hanya menatap kakaknya heran, sembari meneguk minuman kaleng yang dipegangnya.

Itachi mengacak rambutnya kesal seraya bergumam tak jelas. Terlihat layaknya orang frustasi di mata Sasuke. Perlahan, tangan putih Itachi merogoh sesuatu dari kantong jaket yang ia kenakan. Sasuke melihat sang kakak mengeluarkan sebuah kalung panjang yang mempunyai bentuk bintang pada liontinnya, dengan hiasan manik-manik kecil berwarna putih di dalamnya. Hal itu membuat Sasuke lagi-lagi mengerutkan keningnya─heran. 'untuk apa dia menyimpan barang seperti itu?'

Itachi memutar asal kalung di tangannya. Mengamati kalung itu. Mencari makna yang terkandung dalam kalung sederhana tersebut. Hingga tiba-tiba mulutnya berujar pelan, "Aku harus memberikan benda ini padanya."

Sasuke menatap kalung itu sekilas. Ingin ia mengeluarkan kata-kata tajamnya untuk Itachi. Namun ketika melihat wajah Itachi yang terlihat serius, ia urungkan niatnya untuk sementara.

Itachi kembali membuka mulutnya, "Aku ingin ia bisa menjadi seperti bintang. Bintang terbesar dan bersinar paling terang." Itachi menghentikan ucapannya untuk sementara. Ia mengocok manik-manik kecil yang berada dalam lapisan bintang tersebut. "Meski ia tau suatu saat salju akan menutupinya. Aku ingin ia tetap berusaha melakukan yang terbaik. Tak akan putus asa untuk memancarkan sinarnya yang paling terang untuk dunia."

Jujur, Sasuke nyaris tertawa mendengar ucapan Itachi barusan. Sungguh hal yang tak biasa. Seorang 'Uchiha Itachi' mengeluarkan kata-kata melankolis seperti itu.

Itachi kembali melanjutkan dengan ucapan yang sangat lirih, "Aku tak ingin ia menjadi Sakura yang rapuh di musim dingin…"

DEG!

Sasuke tersentak ketika Itachi menyebut salah satu nama yang sungguh tidak asing lagi baginya. Seketika ia terdiam. Mencoba lebih jeli mencerna apa yang terkandung di balik seluruh ucapan konyol Itachi.

"Aku ingin ia menjadi Sakura yang kuat. Ya. Aku tidak ingin dia membenci musim dingin lagi." Itachi menarik senyum lembutnya. Membayangkan sosok gadis yang ia maksudkan, menjadi kuat dan tegar menghadapi apapun yang terjadi. "Aku ingin memberikan kalung ini padanya. Anggap saja sebagai jimat, agar dia selalu kuat." lanjutnya seraya tetap mempertahankan senyum lembut yang tertera di bibirnya.

Sasuke hanya bisa diam mematung. Ia tak bereaksi apapun ketika Itachi membicarakan hal yang cukup membuat hatinya berontak. Ia sungguh tak mengerti mengapa kakaknya mengucapkan kalimat itu. Bahkan senyum lembut kakaknya─aah dia tak sanggup lagi melihatnya.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk menemuinya malam ini." Ia kembali memasukkan kalung itu ke dalam saku jaketnya. Kemudian, matanya menatap Sasuke. Dengan nada pelan namun terkesan tegas, ia berkata, "Aku ingin menyatakan perasaan yang selama ini kupendam padanya."

Sasuke tercengang. Petir dan gemuruh seakan berkumpul dalam hatinya. Mengoyak dan menghancurkan semua yang ada. Dan hanya akan menyisakan sebuah rasa sakit. Rasa sakit saat mengetahui bahwa kakaknya ternyata memendam suatu perasaan khusus pada pujaan hatinya. Sungguh menyakitkan… Bahkan yang begitu menyakitkannya lagi, ia hanya bisa terdiam. Membiarkan cintanya kandas begitu saja. Membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaan sang kakak.

"Sasuke…" panggil Itachi pelan. Sasuke tak merespon. Berat rasanya untuk menatap wajah kakaknya. Itachi kembali berujar pelan, "Kau mengenal baik Sakura, kan? Berjanjilah kau akan terus menjaganya."

Eh?

Kali ini Sasuke memberanikan diri menatap kakaknya. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dalam kalimat terakhir kakaknya.

Itachi tersenyum lembut, dan menepuk bahu Sasuke. "Aku pergi." Ia melepas satu tangannya dari bahu Sasuke, dan mulai melangkah keluar. Satu yang tak disadari Sasuke saat itu.

Sebulir air mata mengalir dari bola mata hitam Itachi.

-flashback end-

Perlahan, Sasuke mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya. Kalung yang selama ini ia simpan. Kalung yang ingin sekali ia buang, namun entah mengapa cukup sulit untuk melakukannya. Ya. Kalun berliontin bintang yang hendak diberikan Itachi pada Sakura.

Sasuke tersenyum pedih mengingat memori masa lalu dalam kehidupannya. Itulah saat-saat dimana ia berbincang untuk yang terakhir kalinya dengan Itachi. Sesudah kejadian itu, ia mendengar kabar bahwa kakaknya mengalami kecelakaan saat tengah menuju ke rumah Sakura. Mobil naas yang dikendarai Itachi menabrak sebuah pohon besar yang berada di pinggir jalan.

Selama ini ia terus menyalahkan Sakura atas kejadian itu. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, sebenarnya ia merasa bahwa ia lah yang patut disalahkan. Kalau saja ia menahan Itachi untuk tidak pergi saat itu, pasti ia tak akan kehilangan kakaknya.

Sasuke menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia tengadahkan kepalanya dan ia pejamkan kedua matanya. Ia genggam kalung itu, kuat-kuat. Pikirannya melayang bersama angin. Sebenarnya bukan alasan bahwa─Sakura penyebab Itachi meninggal─yang membuatnya mencoba menjauhi gadis itu. Melainkan karena kakaknya mencintai gadis itu. Ia relakan gadis yang dia cintai demi mediang sang kakak. Mengalah. Satu kata yang dapat mempertegas apa yang selama ini ia lakukan. Karena itulah ia mencoba menjauh. Supaya lambat laun benih cinta dalam hatinya akan segera mati. Namun…

"Mengapa dia harus muncul lagi?"


Sakura merapatkan mantel coklat yang dikenakannya. Perlahan ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya─berharap rasa dingin yang menusuk ini sedikit hilang. Kemudian, ia bergumam kesal mengapa salju tak kunjung reda. Dalam hati ia merutuk nasibnya. Kalau saja ia tak lupa membawa payung, pasti saat ini ia sudah sampai di rumah. Bukannya menunggu di depan sekolah seperti ini. Sungguh membosankan…

Sasuke…

Ia tidak mengingatku?

Sakura menggigit bibir bawahnya. Pedih rasanya bila mengingat kejadian barusan. Sebisa mungkin, ia alihkan perhatiannya ketika pikiran tersebut kembali menyergap. Ia mulai menatap kosong butir-butir salju putih yang turun dari langit. Sesekali ia mengucek matanya, ketika pandangannya sedikit kabur. "Hah. Mungkin aku terlalu lelah." ujarnya lirih. Tak ada pilihan lain. Ia ingin segera sampai dirumah untuk beristirahat. Ia pun merapatkan mantelnya dan berlari menerjang hujan salju.

Namun, hal yang tak ia inginkan sebelumnya terjadi. Langkahnya terhenti tiba-tiba. Ia merasakan sekujur tubuhnya benar-benar lemah kali ini. Nafasnya memburu tak karuan. Dingin yang teramat sangat membuatnya harus menarik nafas lebih dalam untuk menghirup pasokan oksigen yang masih tersisa di udara. Hingga beberapa detik kemudian, pertahanannya untuk tetap berdiri pecah. Kalau saja tak ada sepasang lengan yang menahannya, mungkin ia sudah terjatuh di atas tanah.

"Sakura? Hei, Sakura?" seru lelaki berambut pirang yang menopang tubuh Sakura di lengannya. Ia terus memanggil nama gadis itu dan mengguncang pelan bahu gadis tersebut. Tapi nihil. Gadis itu tetap diam dengan mata menutup. Tak ada pilihan lain. Lelaki itu segera melingkarkan tangan Sakura di lehernya. Sejurus kemudian, ia segera berlari menerobos salju bersama Sakura yang masih berada dalam gendongannya.

Dan satu hal yang tak disadari oleh mereka berdua. Bahwa sepasang mata onyx telah memperhatikan mereka berdua sedari tadi…

-


To be continued



Artikel Terkait



4 komentar:

Poskan Komentar

tengz vo give me a coment ☺