Minggu, 21 November 2010

Memories of the Winter - Chapter 5



Chapter 5 (Mengapa harus dia?)

.

.

Tap..

Tap..

Tap..

Derap langkah itu terdengar di tengah kesunyian. Sepasang kaki jenjang terus menapakkan diri di lantai─menyusuri koridor sekolah yang sepi. Bulir keringat mengalir membasahi wajah, hembusan nafas tak teratur, penampilan berantakan. Itulah yang melekat pada diri Sakura saat ini. Kedua mata emeraldnya mengitar mencari sosok Ino. Ini bukan hal yang baik. Ia tahu itu. Ino pasti marah besar padanya.

Setelah sekian lama mencari, namun tak jua ia temukan. Alhasil ia pun hanya dapat terduduk lemas di lantai dengan bersimbah air mata. “Bodoh…” sesalnya lirih. Ia terisak. Air matanya turun dengan deras. “Mengapa kau begitu bodoh, Sakura? Mengapa?” Penyesalan demi penyesalan terus meluncur dari bibir merahnya. Tiada henti. Semuanya ia lampiaskan pada penyesalan itu.

“Sakura?”

Gadis berambut merah jambu itu berjengit saat mendengar sapaan lembut di belakangnya. Seketika ia menoleh dan mendapati sosok Naruto yang sedang menatapnya cemas.

“Sakura? Kau menangis? Apa yang terjadi?” Naruto lantas mendekati Sakura dan menanyakan perihal yang membuatnya tak mengerti. “Siapa yang membuatmu menangis?!” lanjutnya panik.

Namun Sakura hanya terdiam. Tak sedikit pun mengindahkan rentetan pertanyaan dari pemuda berambut pirang tersebut. Ia hanya dapat kembali terisak. Lalu pergi beranjak dari tempat itu. Tanpa jawaban. Tanpa salam. Ia langsung berlari meninggalkan Naruto yang masih terdiam penuh tanya.

-

-

‘Sasuke… Kau salah. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu…’

Ino menangis. Kalimat itu begitu menonjok perasaannya habis-habisan. Ia begitu tidak menyangka Sakura akan tega berbuat seperti ini padanya. Padahal ia telah memberanikan diri mengaku pada gadis itu bahwa ia menyukai Sasuke. Namun dengan kejamnya, Sakura justru menusuknya dari belakang seperti ini. “Pengkhianat.” desisnya lemah. Gadis berambut pirang itu tak henti-hentinya melontarkan kata pengkhianat dalam gumaman. Dadanya begitu sakit jika mengingat kalimat itu. Kalimat yang berhasil meruntuhkan seluruh benteng kepercayaan yang diberikannya pada Sakura.

Ino berhenti terisak ketika seseorang menyodorkan sapu tangan tepat di depan wajahnya. Saat menyadari bahwa Sai orangnya, gadis itu langsung membuang muka─enggan menerima sapu tangan pemberian pemuda tersebut. Ia sudah tahu, bahwa nantinya Sai hanya akan memperoloknya saja.

“Wajahmu sangat jelek ketika menangis.” ucap Sai lirih. Ino melenguh. Tepat seperti dugaannya semula. Sai pasti akan mengejeknya. Baru saja ia ingin beranjak dari hadapan Sai, tiba-tiba ia tertegun saat satu tangan menangkap lengannya. Ino menoleh dan melirik Sai dengan heran. Yang dilirik hanya diam sambil memberikan sapu tangannya secara paksa ke tangan Ino. Ino pun akhirnya menurut, dan menerima sapu tangan itu.

“Menyerahlah soal dia.” lanjut Sai seraya menatap mata Ino lekat-lekat. “Aku sadar sejak kemarin di Ichiraku. Mereka pasti punya hubungan istimewa di masa lalu. Lagipula, apa kau tidak curiga saat Sasuke yang dingin pada semua orang, tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Sakura pulang?”

“Eh?” Ino tercengang. Namun sekejap kemudian, bulir air mata kembali membasahi pipinya. Mereka punya hubungan istimewa? Sebenarnya ia tahu. Ia tahu itu. Jelas ia melihat sendiri, bahwa Sasuke tidak memberontak saat dirinya dipeluk Sakura. Padahal sepengetahuan Ino, selama ini Sasuke tidak akan pernah membiarkan seorang pun memeluknya. “Mengapa?” gumam Ino di sela isak tangisnya yang semakin kencang. Seharusnya ia sadar sedari dulu. Sasuke tidak akan mungkin menjadi miliknya. Selamanya dia tidak akan bisa. Tidak akan bisa menyentuh hati beku pemuda itu. Tidak akan bisa…

“Lupakan dia.” tutur Sai. Kedua mata hitamnya menyorot tajam. Tidak ada seringai bercanda di wajahnya. Hanya raut serius yang terpeta disana. “Berpalinglah darinya.”

Selama beberapa saat, Ino terdiam. Ia terlalu shock mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut Sai. Ia menggigit bibir bawahnya dan menduduk dalam. “Kau… Kau jahat, Sai.” ucapnya pelan. Perlahan, gadis berambut pirang itu mengangkat wajah. Terlihat kilat marah disana. “Kau keterlaluan! Semudah itukah kau mengucapkan kalimat itu atas apa yang telah kau lakukan? Kau pikir aku tidak tahu? Kau menjebak mereka berdua di dalam sana, dan sengaja menuntunku supaya aku tahu bahwa mereka sedang berduaan. Sebenarnya apa maumu, hah?”

Mata hitam Sai melebar. Raut tidak percaya terlihat jelas disana. Reaksi Ino sungguh diluar dugaan. Ia sangat merasa bersalah karena ini.

“Aku tahu, aku bodoh karena berani menyukai orang yang mungkin selamanya tidak akan pernah bisa kumiliki.” kata Ino pedih. Ia membuang muka. Dengan senyum getir ia kembali berkata, “Tapi kau harus tahu satu hal. Kata menyerah tidak ada dalam kamusku. Aku akan buktikan padamu, kalau aku akan membuatnya melihatku secara pantas.”

Sai tak berkutik. Tak ada satu pun kata-kata remehan yang biasanya ia lontarkan pada gadis berambut pirang tersebut. Tak ada makian. Tak ada ejekan. Yang ada hanyalah kebisuan. Ia mematung. Menyimpan rasa bersalah yang begitu besar dalam hati.

“Kali ini kau merasa menang, kan? Tertawa saja sepuasmu. Aku tidak akan melarang.” Selepas kalimat itu meluncur dari bibir Ino, gadis itu langsung berbalik─hendak beranjak pergi.

“Maafkan aku.”

Eh?

Ino berhenti melangkah. Dalam hati ia tertegun. Apa yang baru saja didengarnya tadi? Seorang Sai meminta maaf? Mustahil… Apa ia salah dengar?

“Aku menyesal.”

Ino terpaku. Terlalu terkejut mendengar Sai berkata seperti itu. Lelaki itu sungguh berbeda saat ini. Ia merasakan perbedaan itu. Ini bukan seperti Sai yang ia kenal. Sai yang selalu memperoloknya. Sai yang selalu menjadi musuh bebuyutannya sejak kecil. Mengapa sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini? Dan mengapa hati Ino terenyuh mendengarnya?

“Aku hanya ingin membuka matamu tentang satu hal. Tentang dia, Ino…”

Untuk kesekian kalinya, Ino tercengang. Ino? Benarkah nama itu yang diucapkannya tadi? Tak ada sahutan pig diakhir nama. Ini pertama kali, Sai memanggilnya seperti itu. Mengapa?

“Cobalah buka hatimu untuk orang lain. Masih ada aku disini…”

-

-

Hari telah berganti. Pagi menyapa riang. Sinar hangat sang mentari mulai menyebar di seluruh sudut dunia. Seorang gadis berambut merah jambu pun terbangun saat belaian sinar menyentuhnya. Ia membuka tirai jendela dan membalas sapaan pagi dengan senyum. Perlahan, ia turun dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin. Ia mendesis lemah tatkala menyadari bahwa kedua matanya bengkak. Dalam hati ia menyesali perbuatannya. Kalau saja semalam dia tidak menangis hingga terlelap, pasti matanya tak akan berakhir seperti ini.

“Apa yang nanti harus aku katakan pada okaasan?” keluhnya pelan. Sembari memikirkan alasan yang tepat jika ibunya menanyakan perihal bengkak matanya─ia pun menghembuskan nafas berat dan terus memandangi pantulan bayangannya di cermin. Tiba-tiba pandangannya terpusat pada sesuatu.

Gadis itu mendekatkan diri pada cermin, dan mengamati bintik-bintik merah di sekitar hidungnya. Ia mengerutkan kening heran. “Cacarkah?” tanyanya lirih. Namun sedetik kemudian ia menggeleng. “Tidak mungkin. Bukankah aku sudah pernah mengidap cacar saat SD?” Ia mencoba mengingat.

kreek…

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Seorang wanita anggun berambut panjang masuk ke dalam. Wanita itu tersenyum lembut ketika menyadari bahwa anak gadisnya telah bangun. “Sakura, Kaasan berangkat dulu ya? Barusan Kaasan diberitahu kalau ada masalah penting di kantor.” pamit wanita tersebut.

Sakura mengangguk─mengerti, dan membiarkan ibunya melangkah keluar untuk berangkat bekerja. Ia menarik nafas lega, karena ibunya tidak menyadari bengkak di matanya. Mungkin karena merasa dikejar waktu, Kaasan pun tidak sempat memperhatikan perbedaan kecil ini, batin Sakura.

Lalu kemudian perhatiannya kembali terpusat pada bercak merah di sekitar hidungnya. “Bercak apa ini? Lagipula cacar tidak seperti ini, kan?” gumamnya heran.

-

-

“Hoi Dobe, apa yang kau lakukan disini?”

Naruto sedikit terperanjat saat tiba-tiba Sasuke muncul dan bertanya padanya. “Kau mengagetkanku saja, Teme.” sungutnya kesal. Ia pun menyandarkan punggungnya di dinding dan menerawang orang lalu lalang di sekitarnya. “Aku sedang menunggu Sakura.” jawabnya kemudian.

“Eh? Ada urusan apa kau menunggunya?” tanya Sasuke heran. Ada sedikit nada tidak suka dalam suaranya.

Naruto melirik menyelidik pada Sasuke. Ia dapat merasakan sesuatu yang tak biasa dalam diri sang Uchiha. “Sejak kapan kau peduli pada urusan orang lain, Teme?” Sasuke terperangah dan segera memperbaiki raut wajahnya. Melihat gerak-gerik mencurigakan dari pemuda berambut hitam itu, Naruto pun tersenyum kecil, “Atau jangan-jangan kau…”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Dobe.” tegas Sasuke seraya memberikan death glare-nya pada Naruto. Naruto pun akhirnya bungkam dan menghentikan misi menggodanya itu. “Jadi?” tanya Sasuke kemudian.

Naruto memandang Sasuke bingung. Dengan polos ia bertanya, “Jadi apanya?”

Sasuke menarik nafas kesal dan menggumam geram, “Kau ini lemot sekali sih, Dobe.” keluhnya. “Baiklah, aku ulang. Jadi, ada urusan apa kau menunggunya?”

Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Raut muka yang tadinya penuh canda kini berganti serius. Dengan lirih ia berkata, “Kemarin aku melihatnya menangis…” Naruto dapat merasakan mata onyx di hadapannya melebar saat kalimat itu meluncur dari bibirnya. “Maka dari itu, aku menunggunya untuk menanyakan hal itu.” lanjutnya.

Bertepatan dengan itulah, guru─yang sedari tadi mengajar di kelas Sakura─keluar. Lantas, Naruto menegakkan tubuhnya secara sempurna dan menunggu seseorang keluar dari kelas. “Hei, Hinata-chan!” sapa Naruto saat biru mata safirnya menangkap seorang gadis berambut indigo yang tengah berjalan keluar kelas. Ia melambai-lambai─seakan meminta gadis itu mendekat padanya.

Gadis yang dipanggil itu tiba-tiba menunduk. Ada semburat merah di kedua pipinya. Seraya terus melangkah ke tempat dimana Naruto berdiri, ia menerka-nerka alasan apa yang membuat pemuda itu menunggunya di depan kelas. “Na.. Naruto-kun… Ada perlu apa?” tanyanya gugup.

“Hmm… Hinata-chan, kau tidak sedang bersama Sakura? Dimana dia?” tanya Naruto.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Sedikit kecewa saat mengetahui bahwa alasan yang membawa Naruto menemuinya bukan karena dirinya. “Di.. Dia tidak masuk, Naruto-kun. Tanpa surat. Mungkin dia sakit.”

“Eh? Sakit?” Naruto sukses terperanjat. Sama halnya dengan Sasuke. Pernyataan dari Hinata sungguh membuat mereka benar-benar terkejut. Seusai rasa keterkejutan mereka lenyap, Naruto pun mengusulkan untuk mengajak Hinata dan Sasuke─menjenguk Sakura.

Hinata menyanggupi. Namun Sasuke masih terdiam. Ia bimbang. Seakan ada satu bisikan yang membuatnya mengurungkan usul dari Naruto. Ia berperang dalam batin. Lagipula ia masih tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Sakura─setelah insiden pengakuan gadis itu kemarin.

“Hoi, Teme? Bagaimana?” tanya Naruto tidak sabaran, karena sedari tadi Sasuke tampak mengacuhkan usulnya.

“Aku tidak bisa.” jawab Sasuke setelah lama terdiam. Ia menghela nafas─sibuk meyakinkan diri bahwa keputusan itu memang yang terbaik baginya. “Aku baru ingat kalau aku ada urusan penting setelah ini. Sampaikan salamku untuk Sakura, ya?” Selepas kalimat itu meluncur dari bibirnya, ia pun melangkah pergi dengan beribu kebimbangan yang semakin mengusik benaknya.

“Yah, baiklah. Ayo kita berdua saja yang menjenguk Sakura, Hinata-chan.” kata Naruto seraya tersenyum lebar. Ia mulai melangkah dan Hinata mengikuti di sampingnya.

Hinata berjalan dengan gugup. Ia dapat merasakan pipinya memanas kali ini. Sungguh di luar dugaan. Ia bisa berjalan berdua dengan seorang yang telah lama ia puja. Hinata melirik Naruto dari ekor matanya. “Na.. Naruto-kun?” panggil Hinata lirih. Ia memutar otak─berupaya mencari topik pembicaraan yang sekiranya menarik. “Ka… Kau sangat peduli pada Sakura, ya? Tadi saja kau menunggu di depan kelas untuk mencarinya. Bahkan tempo hari kau menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, kan? Padahal bukankah kalian baru kenal?”

Deg! Hinata langsung menghentikan ucapannya saat menangkap raut tidak suka dari wajah pemuda berambut pirang tersebut. Ia mengutuk diri dalam hati. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa topik itu yang harus ia bicarakan. “A.. Ano, ma.. Maksudku─”

“Jadi kau cemburu jika aku peduli padanya, Hinata-chan?” potong Naruto tiba-tiba. Seutas senyum penuh canda pun terpeta di kedua ujung bibirnya.

Blush!

Wajah Hinata benar-benar memerah. Dadanya mencelos saat mendengar ucapan Naruto barusan. Sebenarnya ia sadar, Naruto hanya bercanda. Namun entah mengapa jantungnya seakan tak bisa diajak kompromi.

Melihat wajah Hinata yang semerah kepiting rebus, Naruto pun tertawa terbahak-bahak. Itulah satu dari sekian alasan mengapa ia gemar menggoda gadis itu. Wajah merah Hinata selalu bisa membuatnya tertawa lepas. Ia menepuk bahu Hinata pelan, “Tenang saja. Aku tidak akan berpaling darimu, Hinata-chan.”

Kemudian pemuda itu menggenggam tangan Hinata. Tadinya ia berniat untuk menarik Hinata untuk berlari─supaya segera sampai di rumah Sakura Namun hal di luar perkiraan kembali terjadi. Naruto terperanjat saat menyadari tubuh Hinata melemas dan oleng ke depan. Dengan sigap, Naruto segera menangkapnya. Setelah sadar bahwa Hinata tak sadarkan diri, pemuda itu pun panik. “Hei, Hinata-chan? Apa yang terjadi? Hinata-chan?” Naruto berseru dengan keras, namun kedua mata gadis indigo itu tetap terpejam.

Tampaknya candaan Naruto sudah kelewat batas kali ini. ^.^v

-

-

“Dia sakit?” Sasuke bertanya dalam gumaman. Otaknya memberontak dan seluruh benaknya penuh dengan tanda tanya besar. Tentu ia tidak mau mengakui itu─bahwa sesungguhnya ia teramat khawatir. “Apa nanti aku harus menjenguknya?” Lagi-lagi benaknya bertanya dalam keterbatasan. Sebenarnya ia ingin dan benar-benar ingin menerima ajakan Naruto untuk melihat keadaan Sakura. Namun ia masih bimbang. Ia masih tak tahu harus bersikap bagaimana di depan gadis itu. Sungguh sebuah kenyataan tak biasa yang pernah dirasakannya.

Sekelebat ingatan tentang kejadian di ruang ganti kemarin, membayang lagi di ingatannya. “Dia mencintaiku, eh?” Sasuke menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum pahit. Sekilas ia tertawa hambar dan menggeleng, “Mana mungkin.” Ia tidak mau mempercayai itu. Tapi mengapa semakin ia menekan perasaannya untuk tidak mempercayai itu, justru hatinya semakin riuh bergejolak? Seakan ada gesekan listrik yang memporak-porandakan hatinya untuk mempercayai pengakuan itu.

Tapi mengapa?

Mengapa harus dia?

Ia berdebat dalam pikirannya, hingga kemudian ia sadar bahwa mobil yang dikendarainya telah memasuki halaman rumah yang selama ini ditempatinya. Seusai mematikan mesin, ia pun turun dari mobil dan sedikit terkejut ketika melihat sosok Gaara sedang berdiri di depan rumahnya. “Gaara? Mengapa kau bisa ada disini?”

Gaara tersenyum. “Sekedar berkunjung. Tak apa kan?”

“Hn, tak apa.” jawab Sasuke ramah. “Sering-sering saja berkunjung. Lagipula aku juga tinggal sendiri. Rasanya sepi sekali…”

Kedua mata Gaara sedikit melebar saat mendengar jawaban Sasuke. “Kau merasa kesepian, eh? Bukankah dulu kau justru suka menyendiri? Tak kusangka Konoha membuat kau sedikit berubah.” Seketika Gaara terdiam─memikirkan sesuatu. Lantas ia pun berdeham dan meralat ucapannya, “Yah, kecuali jika bersama ‘si gadis pink’. Hampir setiap saat kau pasti ada di dekatnya.” Tiba-tiba pemuda berambut merah itu kembali terdiam. Ia melirik dan menyadari perubahan raut sang Uchiha. Ia menyesal telah mengungkit masalah itu. “Maaf.”

Sasuke tersenyum. “Sudahlah… Kau tak perlu minta maaf. Kau boleh bercerita tentang Sakura semaumu.” Sasuke masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan Gaara masuk. Ia pun mengambil dua buah minuman kaleng dan memberikannya satu pada Gaara.

Gaara menurut─meski ia masih heran mengapa Sasuke tampak seolah telah melupakan dendamnya pada gadis tersebut. Namun ia tak mau mempermasalahkan itu. Justru bagus. Kedua teman baiknya masih ada harapan untuk bersatu kembali. “Omong-omong soal Sakura, aku jadi ingat satu hal. Baru-baru ini, aku mendapat kabar bahwa dia pindah dari Tokyo. Tapi aku tidak tahu dia pindah kemana.”

“Hn, aku tahu.” kata Sasuke singkat. Ia meneguk minuman kaleng yang sedari tadi dipegangnya─tanpa sedikit pun menggubris tatapan penuh tanya dari Gaara. “Dia pindah kesini.” lanjutnya kemudian.

“Eh?” Gaara terkesiap. “Ja-jadi kau sudah bertemu dengannya?”

Sasuke mengangguk. “Hn.” Perlahan kedua mata onyx-nya menyipit. Ia menunduk, lalu memainkan kaleng minuman di tangannya. Dengan lirih ia berkata, “Sepertinya aku memang tidak bisa berhenti mencintainya…”

Gaara tertegun. Ia menatap Sasuke lekat. Ia sadar. Sahabatnya itu benar-benar sedang dilanda kebimbangan. Ia sadar akan itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain diam dan mendukung Sasuke dari belakang. “Kalau begitu jangan.” ucap Gaara yakin. “Jangan berhenti mencintainya…”

“Tapi Itachi mencintainya.” Nada suara Sasuke mulai meninggi. Namun kemudian ia kembali melenguh dan menghela nafas berat. “Begitu juga dia…” ucap Sasuke lirih. Ia menggigit bibir bawahnya─menahan pedih yang seakan begitu merobek hatinya saat ini. “Mereka mempunyai perasaan yang sama. Dan aku tidak akan mungkin bisa masuk diantara celah hati mereka.”

“Mengapa kau begitu yakin jika dia juga mencintai kakakmu?” tanya Gaara. Kedua matanya menyorot tajam.

“Semua terlihat jelas, Gaara. Tanpa ucapan pun semua orang juga akan tahu jika dia juga mencintai Itachi.” kata Sasuke keras kepala.

Gaara menarik nafas. Ia sadar jika ternyata watak keras Sasuke yang satu itu memang belum berubah. Seketika ia tampak berfikir. Entah apa yang ia pikirkan, tiba-tiba ia menatap Sasuke tajam dan mengucapkan suatu hal yang sedari dulu ia sembunyikan. Tentang Itachi. Tentang kenyataan di balik meninggalnya pemuda berkucir itu. Suatu rahasia besar yang hanya diketahui olehnya dan Itachi seorang.

“Sasuke… Bagaimana jika aku bilang, kalau penyebab meninggalnya Itachi bukanlah murni kecelakaan?”

.

.

.

To be continued



Artikel Terkait



5 komentar:

Poskan Komentar

tengz vo give me a coment ☺