Sabtu, 29 Mei 2010

Memories of the Winter - Chapter 1

--cerita sebelumnya--


Chapter 1 (Past Dream)




Sakura mematut dirinya di depan cermin. Sebuah blazer hitam berlogo 'Konoha Gakuen' dengan rok di atas lutut─telah melekat rapi di tubuhnya yang mungil. Perlahan, kedua tangannya membenarkan dasi pitanya yang terlihat sedikit miring. Lalu, jemarinya bergerak menuju kotak riasnya─mengambil sebuah bandana yang berwarna senada dengan seragam sekolahnya─ kemudian meletakkannya di atas rambut merah jambunya yang tergerai indah hingga ke pinggang.

Seketika ia tersenyum. Tersenyum. Satu hal yang terpaksa ia hadirkan meski pahitnya kenyataan di musim dingin selalu terngiang dalam benaknya.

"Sakura!"

Sakura segera mengambil mantel dan tasnya lalu beranjak keluar─setelah ia mendengar seseorang memanggil namanya. Sebuah panggilan lembut yang nyaris tak terdengar. Seorang gadis berambut indigo dengan mata lavender tampak menunggu di depan pagar rumahnya.

"Maaf membuatmu menunggu, Hinata." Sakura sedikit membungkukkan badannya pada gadis di hadapannya tersebut.

Hinata tersenyum geli. "T-Tak perlu sesopan itu, Sakura. Sekarang kita teman." Hinata sedikit maklum terhadap sikap Sakura. Ia telah mendengar dari kedua orang tuanya bahwa anak dari tetangga barunya ini, merupakan tipe anak yang terlihat pemalu dan pemurung serta tak banyak bicara. Ya, memang sama seperti dirinya. Namun sifat pemalu dalam dirinya adalah bawaan alamiah sejak lahir. Berbeda dengan Sakura. Entah mengapa, Hinata merasa sifat Sakura tersebut dilatar belakangi oleh sesuatu hal.

"Ha-Hari ini hari pertamamu, eh? Tidakkah kau merasa gugup?" tanya Hinata seusai melihat Sakura telah menutup pintu pagarnya.

Sakura menanggapinya dengan senyum dan mengedikkan bahu. Entah apa yang dirasakannya di hari pertama masuk sekolah ini. Sakura sendiri juga tak tau bagaimana suasana hatinya saat ini. Kepindahannya dari Tokyo ke sebuah desa kecil 'Konohagakure', tampaknya tak menimbulkan perubahan apapun. Sejujurnya alasan mengapa ia pindah dari kota besar itu, supaya ia mudah melupakan kejadian buruk yang sebelumnya cukup membuatnya terpukul.

Hinata mencoba memulai pembicaraan kembali─setelah beberapa lama berlangsung hening. "Ka..Kau akan menemui teman-teman baru, sebentar lagi." Sakura hanya tersenyum serta mengangguk pelan. Setelah itu suasana kembali sunyi. Hanya suara hentakan langkah kaki mereka yang terdengar. Hinata pun akhirnya terdiam. Ia tak biasa memulai topik pembicaraan. Dan sepertinya Sakura lebih nyaman bertahan dalam keheningannya.

Langkah mereka berhenti di depan sebuah gedung putih dengan halaman yang sangat luas. Terdapat sebuah papan yang cukup besar─bertuliskan 'Konoha Gakuen', di depannya. Sakura menatap hambar sekolah barunya tersebut. Seketika seulas senyum tipis terpeta dalam raut wajahnya. Ia pun bergumam kecil, sebelum menapakkan kaki masuk dalam sekolah tersebut.

Kehidupanku yang baru,

akan dimulai di tempat ini…


-

Sakura terus mengikuti langkah Hinata dari belakang. Ditelusurinya koridor-koridor sekolah dengan setengah berlari. Ia merasa penasaran pada tempat yang akan ditunjukkan Hinata. Gadis itu hanya menurut saat Hinata berkata, "Ikut saja. Kau pasti senang."

Rasa penasaran Sakura terjawab, ketika Hinata memasuki sebuah ruangan tertutup yang cukup luas. Sakura pun mengikutinya, dan mendapati sebuah lapangan basket di dalamnya. Tampak banyak murid berada di bangku penonton.

Hinata menarik tangan Sakura─membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Gadis bermata lavender itu masuk menyelinap di antara kerumunan. Ia pun berhenti di salah satu bangku yang terletak di samping seorang gadis berambut pirang panjang. "A-Apa aku terlambat, Ino?" tanya Hinata sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Tidak. Pertandingan akan dimulai beberapa menit lagi." ujar gadis berambut pirang tersebut. Kemudian, pandangannya mengarah pada Sakura, "Hei, kau murid baru itu, kan?" Sakura mengangguk. Ino pun mengulurkan tangannya, seraya memperkenalkan diri. "Yamanaka Ino. Senang berkenalan denganmu."

Sakura membalas jabatan tangan Ino sembari tersenyum lembut, "Haruno Sakura."

Tepuk tangan serta sorakan dari penonton membahana ketika pembawa acara mengumumkan bahwa pertandingan akan dimulai. Hinata membisikkan sesuatu pada Sakura. Ia mengatakan bahwa pertandingan ini adalah pertandingan rutin yang diadakan di Konoha Gakuen, setiap tahun. Tim diambil dari tiap angkatan. Dan tim dari angkatan mereka telah gugur di pertandingan seminggu yang lalu. Sehingga, menyisakan dua tim yang akan bertanding di final siang ini. "Kelas 1 melawan kelas 3. Ayo kita dukung kelas 3, Sakura." seru Hinata agak berteriak─mencoba menyaingi beratus suara yang ada di ruangan tersebut.

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ingatan masa lalunya kembali melintas. Basket. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya─membuang ingatan tersebut untuk sementara. Ia berusaha memfokuskan diri untuk menikmati pertandingan ini. Hingga ia mendengar satu nama yang diteriakkan oleh Ino. Ia terhenyak─berharap bahwa dirinya salah dengar. Namun, Ino terus meneriakkan nama itu berulang-ulang. Dan Sakura teramat yakin bahwa telinganya tidak salah dengar.

Perlahan, ia mengikuti arah pandangan Ino. Tampak dua tim yang masing-masing terdiri 5 orang sedang berdiri berhadapan di tengah lapangan. Ia menyipitkan matanya─mencoba melihat lebih jelas. Dan tak dapat disangkal dan dinyana, mata emeraldnya menangkap seorang berpakaian biru dengan rambut hitam kebiruan. Sosok yang benar-benar tak bisa dipercayainya─kembali hadir di depan matanya. Mengembalikan serpihan ingatan masa lalu yang mengerikan.

Uchiha Sasuke.


-

Langit mulai menghitam. Butiran-butiran salju turun menapaki bumi. Suhu udara turun drastis dalam seketika. Banyak orang yang menghentikan aktivitasnya─enggan keluar di bawah salju dan mulai duduk di depan perapian. Namun tidak bagi murid-murid Konoha Gakuen. Seakan diselimuti sinar mentari yang begitu hangat, mereka tak mempedulikan dinginnya salju di luar sana. Mereka tetap berkutat pada kesibukannya memberi semangat─dengan meneriakkan nama jagoan basket mereka masing-masing.

Mata emerald Sakura tak pernah lepas dari sesosok lelaki tampan yang sedang men-dribble bola menuju ring. Teriakan dari penjuru ruangan membahana, ketika Sasuke berhasil melakukan gerakan slam dunk─yang mampu menambah skor lebih unggul dari tim lawan. Dan tepat pada saat itu, tiupan peluit dari wasit dibunyikan─tanda waktu pertandingan telah usai.

Sakura mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Tampak puluhan orang yang seakan begitu gembira atas kemenangan itu. Tidak sedikit dari mereka yang saling berpelukan, bahkan terus-terusan meneriakkan nama 'Sasuke'. Gadis berambut merah jambu itu tersenyum dan bergumam pelan, Selalu menjadi pusat perhatian. Sama sekali tak berubah…

Lamunan Sakura terbuyar ketika Hinata menarik lengannya, kemudian berlari menuju tepi lapangan─tempat pemain-pemain basket duduk beristirahat. Dan kedua gadis tersebut menghentikan langkahnya di depan seorang lelaki berambut pirang.

Hinata sedikit menundukkan kepalanya, lalu menyerahkan sebotol air mineral pada lelaki itu. "I-Ini minuman untukmu, Naruto-kun. Kau telah bermain dengan hebat." puji Hinata. Wajahnya mulai memerah. Menyadari perubahan tersebut, Sakura pun tersenyum geli. Ia baru menyadari jika Hinata tipe seorang gadis yang pemalu.

Lelaki berambut pirang tersebut tersenyum lebar seraya menerima botol pemberian Hinata. "Terima kasih, Hinata-chan. Tapi aku rasa, si Teme jauh lebih hebat dibandingkan denganku. Buktinya para gadis banyak yang meneriaki namanya." keluhnya seraya melirik malas pada sesosok laki-laki yang duduk tak jauh dari tempatnya. Sakura mengikuti arah lirikan Naruto. Terlihat seorang lelaki berambut hitam kebiruan sedang menyeka keringat di keningnya menggunakan handuk kecil yang melilit sebagian lehernya.

Sasuke…

"…Kau murid baru dari Tokyo itu, eh?" Sakura sedikit terlonjak ketika Naruto tiba-tiba mengajaknya berbicara. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya dari Sasuke─dan menganggukkan kepala pada lelaki berambut pirang di depannya. "Uzumaki Naruto." ucap lelaki berambut pirang itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanannya. Sakura terseyum manis, kemudian menyambut jabat tangan Naruto sembari memperkenalkan dirinya.

Kemudian, pandangannya kembali terfokus pada sosok Sasuke yang dilihatnya tadi. Matanya menangkap Ino yang memberikan sebotol air mineral pada lelaki tersebut. Sasuke hanya meliriknya sekilas, lalu menerima botol air pemberian Ino. Gadis berambut pirang panjang itu pun memperlihatkan deretan gigi putihnya─ketika Sasuke meneguk air pemberiannya. Sakura tersenyum hambar. Dingin. Sikapnya juga sama sekali tak berubah.

Sakura terus mengamati gerak-gerik Sasuke, hingga tiba-tiba mata onyx milik Sasuke bertemu pandang dengan mata emeraldnya. Tampak raut keterkejutan dalam wajah Sasuke saat melihat sosok Sakura. Sakura hanya bisa berdiri mematung. Akal sehatnya tak bisa merespon tindakan apa yang harus ia lakukan saat kepalang basah sedang memperhatikannya diam-diam.

Dan tanpa bisa dihindari oleh Sakura, lelaki bermata hitam kelam tersebut tiba-tiba membuka mulutnya dan berlari menuju Sakura. Sakura hampir tak mempercayai pendengarannya, ketika lelaki tersebut berteriak, "AWAS!". Otaknya begitu sulit mencerna satu kata yang keluar dari mulut tersebut. Hingga kemudian, semua pandangannya berubah menjadi gelap…


-

Langit yang tadinya cerah, berubah menjadi kelam. Air mulai turun─menyatukan semua beban. Hujan deras mulai mengguyur kota. Serasa bumi turut menangisi kepergian sesosok pria lembut yang telah tidur dalam keabadian. Sebuah kecelakaan tragis telah merengut nyawanya. Sungguh mengenaskan.

Sakura menggigit bibir bawahnya ketika bayangan kematian Itachi terlintas dalam benaknya. Air mata yang sedari tadi dibendungnya akhirnya menetes bersama hujan yang telah lebih dulu membasahi pipinya. Matanya terpaku pada sebuah pusara yang terletak di hadapannya.

Kemudian, pandangannya beralih ke arah laki-laki yang terduduk lemas di samping pusara Itachi. Bahkan bagi seorang 'Uchiha Sasuke'─yang selama ini dikenal tak pernah menangis, bahkan begitu benci dengan kakaknya─kali ini tak kuat untuk tidak mengeluarkan kesedihan dan rasa kehilangannya.

Perlahan, Sakura mendekat dan duduk di samping lelaki tersebut. "Sa-sasuke… Sudahlah. Biarkan dia tenang di atas sana." Sakura sedikit berhati-hati dalam berbicara. Bagaimana pun juga ia cukup mengerti bagaimana perasaan Sasuke saat ini. Mereka yang baru saja kehilangan orang yang dicintai, cenderung akan lebih mudah emosi. Jadi sebisa mungkin, gadis itu berusaha untuk bersikap lembut supaya tak menyakiti perasaannya.

Sasuke terdiam. Ia berhenti menangis seketika. Sorot matanya yang semula penuh dengan rasa kesedihan berubah menjadi perasaan benci yang begitu mendalam. Ia menatap gadis di sampingnya─tajam, "Kau masih bisa berkata seperti itu, atas semua yang telah kau lakukan?" Lelaki tersebut kembali terdiam. Jeda beberapa menit membuat gadis di hadapannya, semakin tidak mengerti. Sasuke pun kembali menatap pusara kakaknya─yang telah basah karena hujan. Kemudian, bibirnya bergumam pelan, "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku."

Sakura membuka matanya. Seberkas cahaya yang masuk─membuatnya terlebih dahulu mengerjapkan kedua mata, sebelum benar-benar bisa memfokuskan diri menatap sekitar. Sebuah ruangan berdinding putih dengan berbagai kotak medis tampak berada di samping Sakura. Perlahan, Sakura membangkitkan tubuhnya di atas tempat tidur. Satu suara yang ia tangkap setelah terbangun adalah suara Hinata, "Sakura! Ak..Akhirnya kau sadar!"

Sakura menatap wajah Hinata yang terlihat begitu khawatir─hingga hampir menangis. "Apa yang terjadi padaku?" tanyanya lirih sembari memegang kepala bagian belakangnya yang berdenyut hebat.

Hinata pun menjelaskannya secara rinci dan terbata. "Ka..Kau pingsan saat sebuah bola basket mendarat tepat di kepalamu."

Ino yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang UKS, menambahkan, "Sai pelakunya. Dia terus meminta maaf. Tapi kupikir, permintaan maafnya tak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan padamu. Jadi, aku mengajukan suatu syarat supaya ia melakukan apapun yang kau mau. Aku pintar, kan?" ujarnya panjang lebar seraya tertawa licik─penuh kemenangan.

Hinata mencibir─berusaha memprotes sikap Ino yang keterlaluan, "Kau jahat sekali, Ino." Namun sedetik kemudian ia tersenyum geli. Ia mengerti mengapa sikap Ino seperti itu pada Sai. Dulu, ketika Ino berbuat suatu kesalahan pada Sai, lelaki itu juga memberikan syarat yang serupa pada Ino. Mungkin tindakan Ino kali ini lebih bisa disebut dengan 'balas dendam'.

Sakura tak menghiraukan ucapan kedua temannya. Ia justru sibuk berdebat dalam pikirannya. Otaknya terus berputar dengan cepat. Satu kata dari Sasuke terus terngiang dalam benaknya. Dia memperingatkanku, eh? Tanpa Sakura sadari, semburat merah tertera di kedua pipinya─membuat kedua gadis di hadapannya saling berpandangan heran, dan beranggapan bahwa Sakura tertarik pada Sai. Karena hanya nama lelaki itu yang menjadi topik pembicaran, barusan.

"Hei Sakura. Jangan bilang kalau kau menyukai 'cowok cantik' itu." komentar Ino─yang terdengar begitu tidak setuju jika Sakura mempunyai suatu perasaan khusus dengan Sai, musuh bebuyutannya.

Sakura tak menggubris. Kali ini otaknya kembali terpaku pada mimpi yang dialaminya selama tak sadarkan diri. Perlahan, ia tersenyum getir. Seperti memimpikan masa lalu. Ya. Masa lalu yang menyakitkan. Saat Itachi─sahabat terbaiknya─telah meninggalkannya untuk selamanya. Dan juga saat Sasuke mengatakan suatu kata yang begitu menusuk hatinya.

"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku."

Awalnya Sakura begitu terkejut dengan kata-kata yang meluncur tegas dari mulut lelaki bermata onyx tersebut. Bahkan ketika lelaki itu mengatakan bahwa ia-lah penyebab di balik kematian sang kakak. Saat itu, gadis itu benar-benar tak tau harus berbuat apa. Ketidak mengertiannya membuatnya terus membatu, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Semenjak itu, ia tak pernah bertemu lagi dengan lelaki tersebut. Kabarnya, lelaki itu telah pindah dari Tokyo. Dan akhirnya pun, gadis itu mulai berinisiatif keras untuk melupakannya. Melupakan sesosok lelaki yang pernah singgah di hatinya. Sesosok lelaki yang pernah menjadi 'cinta pertamanya…'.

Namun saat ini, ia begitu tidak menyangka. Bahwa keputusan yang membawanya ke tempat ini, telah mempertemukannya kembali dengan Sasuke. Lantas… Bolehkah jika ini disebut…

Takdir?

Takdir yang telah mempertemukannya dengan Sasuke?

Lalu, akankah pertemuan ini justru akan memperbaik keadaan?

Kita hanya bisa menunggu waktu…

-

-

to be continued

Artikel Terkait