Selasa, 14 Desember 2010

Tapi aku hanyalah sebuah cermin...


Ia menatapku tajam. Sepasang mata yang biasanya menyorot lembut─kini menatapku tanpa ampun. Menyeleksi tiap inci lekuk wajahku dengan kilatan amarah. Aku diam tak bergeming. Kubiarkan ia melampiaskan seluruh kemarahannya padaku. Selama itu bisa membuatnya lega, aku tidak keberatan.

Anganku melayang jauh pada kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Aku tahu semuanya. Semua hal yang terjadi padanya. Beribu cobaan yang datang bertubi, seakan membuatnya lumpuh dan mendekam di jurang keputus-asaan.

Ia dipecat dari pekerjaannya di depan mataku. Belum lagi aku melihatnya bertengkar dengan kekasihnya tak lama setelah itu. Tentu aku bisa memahami bagaimana perasaannya. Bagaimana pedih yang menggelayutinya. Dan bagaimana hatinya hancur membentuk kepingan kecil. Kalau saja bisa, aku sangat ingin membantunya lepas dari selimut kepedihan.

Tapi aku hanyalah sebuah cermin.

Benda mati yang tak bisa berbuat apa-apa…

Setahun yang lalu, ia memungutku dari bak sampah. Pemilik lamaku membuangku disana. Aku yang haus akan kasih sayang terobati berkatnya. Ia bagai pahlawan bagiku. Setiap saat ia selalu memberiku senyum bak malaikatnya dengan penuh kasih. Namun sekarang? Senyum itu sirna seutuhnya. Mungkin tak akan muncul lagi menghias hariku. Hilang ditelan bumi.

Kalau saja bisa, aku ingin menangis. Menunjukkan padanya bahwa aku dapat merasakan pedih yang memporak-porandakan hatinya saat ini.

Tapi aku hanyalah sebuah cermin.

Benda mati yang merindukan senyum lembutnya…

Ia menunduk. Aku memantulkan bayangan kegalauannya. Meski aku sadar, bukan ekspresi ini yang seharusnya kupantulkan. Aku tak kuat! Aku tak akan tega memantulkan bayangan sedih seperti yang ada di depanku ini. Namun… Apa yang bisa kulakukan? Takdir berkehendak demikian. Aku tak bisa berkutik, menyangkal, dan menjerit agar lingkar bahagia kembali padanya.

Perlahan ia menangis. Tetesan air yang keluar dari pelupuk mata indah itu membuatku tercengang─tak tahu harus berbuat apa. Semua cahaya indahnya hilang bergantikan dengan gelap yang menutup segala harapan. Menerbangkan tangisan dewi malam yang terisak karenanya.

Andai aku bukan cermin, mungkin saat ini telah kudekap dia dalam belaian asa. Membiarkannya berhenti menangis. Dan meyakinkannya bahwa masih ada jalan keluar dari belitan masalah ini.

Tapi aku hanyalah sebuah cermin,

Benda mati yang tak bisa mewujudkan harapan itu…

Aku membatu saat lagi-lagi mata tajam itu kembali menatapku. Seakan mengintimidasi dan memberiku tusukan perih atas karenanya. Yang kulakukan sama seperti sebelumnya. Diam tak bergeming. Meski aku sangat ingin memberontak dan meminta Tuhan supaya diberi kesempatan untuk menjadi makhluk yang bisa menemani pemuda kesepian itu.

Namun aku sadar Tuhan tak mungkin mendengar doa ini. Doa dari sebuah benda mati yang teramat serakah. Aku tahu dan aku sadar jika Tuhan telah memberiku hati dan perasaan. Tidak dibandingkan dengan benda mati lainnya. Tapi keajaiban itulah yang membuatku ingin menuntut lebih. Kalau saja dari awal aku tidak mempunyai hati, aku tidak mungkin menyimpan rasa ini. Sebuah rasa yang bersemayam sejak aku mengenal pemuda itu.

Sungguh tidak berguna! Aku tak bisa berbuat apapun. Yang bisa kulakukan hanyalah diam menyaksikan tangisan pilu itu dalam keheningan.

Karena aku hanyalah sebuah cermin.

Benda mati yang mempunyai rasa terlarang…

.

.

F.I.N



Artikel Terkait



7 komentar:

Nurul Faidatul Fatihah mengatakan...

walaupun udah baca tapi tetep aja keren kak hehe :D

AkaneD'SiLa mengatakan...

derita sang cermin

yossyozy mengatakan...

ahhh, sekali keren emang tetep kereeen! haha

nadiapuccino mengatakan...

wah, keren, jadi pengen baca lagi

♥ nadita is nacchi ♥ mengatakan...

@nurul, akane, yochi, nadia : makasih yaaa ♥

^.^

Nurul Faidatul Fatihah mengatakan...

samasama kak :D

Uchiha Risqi mengatakan...

kereen :D

Posting Komentar

tengz vo give me a coment ☺