Sabtu, 29 Mei 2010

Memories of the Winter - Chapter 3

--cerita sebelumnya--


Chapter 3 (One Sweet Moment)




Suara nyaring alarm rupanya tidak membuat Sakura bereaksi sedikit pun. Gadis itu tetap terjaga dalam tidur lelapnya. Hingga wanita paruh baya dengan balutan pakaian kantoran masuk ke dalam kamarnya seraya mematikan alarm yang sedari tadi terus berbunyi. Wanita itu pun segera membangunkan anak gadis semata wayangnya, "Hei Sakura… Kau mau tidur sampai jam berapa?"

Mau tidak mau, Sakura terpaksa membuka mata. Ia bangkit perlahan seraya mengucek kedua matanya. "Okaasan? Ka..kau sudah mau berangkat ke kantor, eh?" tanyanya sembari sesekali menguap. Sepertinya kantuk belum sepenuhnya pergi dari dirinya.

Wanita itu tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya dengan anggun, "Kau jaga rumah ya? Oya, tadi Hinata telepon. Dia berpesan, kalau dia dan Ino akan datang ke sini untuk mengajakmu keluar jalan-jalan." Wanita itu mencubit gemas kedua pipi anak gadisnya, "Manfaatkan satu hari liburanmu dengan baik…" pesan Ibundanya sebelum beranjak pergi untuk berangkat kerja yang merupakan rutinitas sehari-harinya.

Sakura menatap punggung wanita paruh baya yang mulai menjauh tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa terkadang ia begitu mengagumi sosok wanita itu. Semenjak ayah meninggal karena mengidap suatu penyakit ganas, Ibulah yang selama ini menopang tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ia bekerja pagi hingga malam tanpa kenal lelah. Bahkan di hari Minggu dan hari libur lainnya, ia tetap menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.

Sejujurnya, ada suatu perasaan kesepian yang tersimpan dalam hati kecil gadis itu. Bagaimana bisa seorang anak hanya bisa bertemu ibunya beberapa jam saja, dalam satu hari? Kalau saja Tuhan tidak mengambil ayah secepat itu, pasti Ibu dan dirinya akan bahagia─tanpa pernah diselimuti rasa kesepian dan kerja keras membanting tulang.

Sakura sedikit tersentak, ketika bunyi bel membuyarkan lamunannya. Ia segera melangkah cepat menuju pintu depan dan membukanya. Sesuai dengan dugaan sebelumnya, tampak Hinata dan Ino telah berada di depan rumahnya.

"Sakura? Sudah baikan? Aku dengar dari Hinata, kemarin kau pingsan?" tanya Ino cemas. Kedua matanya naik-turun memandang Sakura dari ujung kepala hingga ujung kaki─dengan tatapan khawatir.

Sakura terdiam. Ia terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu. "Bukankah terakhir kemarin aku masih di sekolah?"

Hinata tersenyum. Ia dudukkan tubuh mungilnya di atas sofa hijau milik Sakura. Ia segera menjelaskan semua kejadian yang terjadi selama Sakura tidak sadarkan diri─secara runtut. Saat itu, Naruto membawa Sakura menuju ke rumahnya dalam keadaan pingsan. Naruto berkata bahwa Sakura pingsan di sekolah. Dan ia tidak tau harus mengantar gadis itu pulang ke mana karena ia tidak tau dimana letak rumah Sakura. Sehingga tidak ada pilihan lain selain membawa Sakura menuju ke rumah Hinata. Alhasil, Hinata membantu Naruto mengantar Sakura pulang ke rumahnya.

Setelah mengerti duduk permasalahannya, Sakura segera meminta maaf pada pemilik mata lavender tersebut. "Maaf telah merepotkanmu."

Ino berdecak, "Ya, ya… Hinata akan merasa lebih direpotkan lagi jika kau tidak segera mandi. Ayolah… Mereka pasti sudah menunggu kita." sela Ino tidak sabaran. Berulang kali ia melirik jam tangan violet yang melekat di pergelangan tangannya.

"Baiklah… Tapi 'mereka' siapa yang kau maksud, Ino?" tanya Sakura menyelidik.

"Nantinya kau juga pasti akan tau. Segera mandi atau kami akan meninggalkanmu." ancam Ino yang sukses membuat Sakura segera berlari melesat ke dalam kamarnya.

-


'Ichiraku's Ramen'

Sakura menautkan kedua alis ketika menatap bangunan kecil di hadapannya. Kepalanya menengok perlahan ke arah Ino dan Hinata yang berdiri di sampingnya, "Bukan tempat ini yang kau maksud, ya kan?"

Ino dan Hinata hanya tertawa geli. Mereka menerangkan bahwa tempat itu adalah kedai ramen satu-satunya yang terlezat di Konoha. Memang tempat yang disediakan pemilik kedai tidak cukup luas. Namun itu semua tidak menjamin bahwa ramen yang dijual juga tidak enak. "Sekali mencoba, kau pasti akan merasa ketagihan seperti Naruto." ujar Ino layaknya sales yang mempromosikan dagangannya.

Sakura hanya bisa mengangguk mengerti. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam kedai. Selama beberapa saat, ia cukup terkesima dengan penataan tempat di dalam kedai. Cukup ditata dengan rapi dan sejuk dipandang.

Gadis berambut merah jambu itu berdecak kagum. Ia edarkan kedua mata emeraldnya menyusuri setiap sudut kedai itu. Ia terpaku, ketika melihat lima orang lelaki tampan tengah duduk santai di sudut ruangan. Mereka bersenda gurau dengan tawa yang membahana. Gadis itu terkesiap ketika matanya menangkap sosok Uchiha Sasuke yang duduk berada di antara mereka. Sakura menatap lelaki itu, tak berkedip.

Tawa itu…

Sudah lama aku tidak melihatnya…

"Ohayou minasan!" seru Ino lantang─yang berhasil membuat kelima lelaki tampan tersebut menoleh ke arahnya.

Sakura begitu gugup ketika melihat perubahan raut wajah dari sang Uchiha. Bila mengingat kejadian tempo hari─saat Sasuke mengatakan bahwa ia tidak mengingatnya─entah mengapa ia merasa canggung jika harus berhadapan dengan lelaki tersebut. Tanpa berani menatap pemilik mata onyx tersebut, ia mulai mengikuti kedua temannya dan mengambil tempat disamping Hinata.

"Eh? Kalau tidak salah kau orang yang terkena lemparan bola kemarin, kan?" tanya seseorang berambut hitam legam dengan hiasan senyum misterius di bibirnya.

Ino mencibir lelaki tersebut, "Ya. Ingat janjimu kemarin, Sai. Kau harus melaksanakan semua perintah Sakura!" cercahnya dengan tatapan membunuh─yang berhasil membuat semua yang berada di tempat itu begidik ngeri melihatnya.

Lelaki yang dipanggil Sai hanya tertawa geli seraya menghujani Ino dengan ledekan pedasnya, "Aku tidak tanya padamu." Kemudian, ia pun kembali menatap Sakura, "Aku minta maaf soal yang kemarin. Damai?" ujarnya lembut. Ia ulurkan tangan kanannya tepat di hadapan gadis berambut merah jambu tersebut.

Sakura menyambut uluran tangan Sai, diiringi dengan anggukan kecil di kepalanya. Sai pun melempar senyum penuh kemenangannya pada Ino. Dan gadis berambut pirang tersebut hanya bisa menahan amarah dalam menghadapi musuh bebuyutannya itu.

Hinata berbisik pada Sakura, jika Naruto akan mentraktir mereka semua di kedai ini. Gadis berambut indigo panjang itu berkata bahwa mereka semua ingin merayakan kemenangan yang diraih kelima pemuda itu dalam pertandingan basket sehari yang lalu.

Kali ini Naruto angkat bicara. Ia mulai memperkenalkan satu persatu temannya sekaligus anggota tim basketnya─ pada Sakura. Mulai dari Shikamaru, yang hobi tidur di sela pelajaran namun selalu mendapat peringkat atas di sekolah. Sai, cowok playboy yang pandai merayu cewek. Sasuke, lelaki yang teramat dingin seantero sekolah. Hingga Neji yang kabarnya mengidap sister complex terhadap Hinata, adik sepupunya─ namun tentu saja pernyataan itu buru-buru disanggah oleh kedua saudara bermata lavender tersebut.

Tawa remaja muda itu kembali menggema. Sakura tertawa kecil─mencoba menikmati alunan canda tawa. Kemudian, ia beranikan diri melirik ke arah Sasuke untuk yang kedua kalinya. Dan di detik itu juga ia menyadari bahwa Sasuke sama sekali tidak tertawa. Pemuda itu hanya diam sesekali meneguk minuman dingin di hadapannya. Tampaknya ia tidak menikmati acara ini.

Apa karena aku…?

Padahal gadis itu jelas-jelas melihat tawa Sasuke sebelum lelaki itu menyadari kehadirannya. Seketika, dadanya terasa sesak. Gadis itu merasa sekuat apapun usahanya, Sasuke tetap akan menganggap dia sebagai 'pengganggu'. Sejauh ia mencoba untuk mengembalikan Sasuke yang dulu, ia yakin justru nantinya itu hanya akan semakin membuat hatinya makin sakit.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia bisa merasakan cairan bening mulai berkumpul di pelupuk matanya. Sekuat mungkin ia menahan air itu tidak sampai menetes di atas pipinya. Menangis di depan Sasuke, ia pikir bukan hal yang baik.

Sakura pun berdiri dari tempatnya duduk. Semua menoleh ke arahnya. Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum, "Tiba-tiba aku merasa sedikit tidak enak badan. Boleh aku pulang sekarang?" pintanya memohon. Ia tatap teman-temannya satu persatu, terkecuali Sasuke.

Naruto menawarkan diri untuk mengantar. Tanpa mempedulikan tatapan tidak suka dari Hinata, lelaki itu langsung seenaknya saja menarik tangan Sakura. Benar saja. Sakura berusaha menolak. Lagipula ia tidak mau di-cap sebagai 'perusuh suasana'. Bagaimana bisa Naruto, yang membuat acara sekaligus bagian mentraktir, justru harus keluar dari acara demi mengantarnya pulang. "Aku bisa pulang sendiri, Naruto." tolaknya halus. Satu yang membuat Sakura heran, Naruto tetap bersikeras untuk mengantarnya. Sebisa mungkin Sakura berusaha terus menolaknya.

Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata onyx sedang memperhatikannya─was was.

Sasuke bergeming. Kejadian ketika Sakura pingsan dan Naruto membopong Sakura─yang tidak sengaja dilihatnya kemarin, melintas dalam benak pemilik mata onyx tersebut. Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Semacam perasaan aneh berdesir dalam tubuhnya. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Ia sendiri juga tidak mengerti. Yang ia mengerti hanya ia tidak suka cara perlakuan Naruto terhadap Sakura.

"Tidak perlu, Naruto. Aku─" ucapan Sakura terpotong ketika ia merasakan sebuah tangan yang lebih besar dari tangan Naruto─menggenggam tangannya dan menariknya pergi beranjak dari tempat itu. Sakura terperangah ketika menatap pemilik dari tangan itu. Sasuke…

"Biar aku yang mengantarnya." kata Sasuke dingin. Semua yang berada di tempat itu membuka mulutnya─terkesiap. Sungguh suatu hal yang sangat langka. Baru kali ini mereka melihat seorang 'Uchiha Sasuke' yang dikenal berkepribadian dingin, berniat melakukan hal semulia itu.

Sakura dengan ekspresi shocknya─menurut. Ia sama sekali tidak membantah maupun menolak. Mata emeralnya terus saja menatap punggung Sasuke dari belakang. Sebuah senyum tertera di bibirnya yang merah. Entah mengapa ia merasakan sisi lembut Sasuke yang dulu, belum sepenuhnya hilang dari pemuda yang saat ini menggenggam tangannya.

-


"Bagus, Sasuke! Hal bodoh apa lagi yang kau perbuat sekarang, hah?" pekik Sasuke dalam hati. Lelaki itu terus mengutuk dirinya sendiri. Wajah tenangnya tidak akan bisa membuat gadis di sampingnya sadar bahwa hati kecilnya sedang berontak.

Sasuke menginjak gas mobil lebih dalam. Dengan kecepatan tinggi, Jaguar hitamnya melesat menyusuri jalanan yang senyap. Hingga ia memberhentikan laju mobilnya, ketika Sakura memberi kode untuk berhenti─menandakan bahwa mereka telah sampai pada tempat yang diarahkan oleh Sakura.

Sasuke tercengang ketika menatap keadaan di luar mobilnya. Di samping kirinya terdapat sebuah danau yang cukup besar, dan di sebelah kanannya hanya terdapat pematang sawah yang ditumbuhi ilalang liar. Sasuke menggumam geram. Sejurus kemudian, ia menoleh ke arah jok di sampingnya, namun tak ia dapati Sakura. Rupanya gadis yang ia cari itu, telah berada di luar sembari menatap kagum ke danau.

Sasuke menarik nafas. Dengan malas, ia membuka pintu mobilnya dan turun keluar. Ia menatap Sakura dengan tatapan tak terdefinisi, "Kau mempermainkanku?" tanyanya dingin. Nyaris terdengar sedikit kekesalan dalam nada suaranya.

Sakura menoleh ke arah Sasuke dan menggelengkan kepala. Matanya menyipit, "Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.

Sasuke melenguh. "Jadi ini rumahmu?"

Gadis berambut merah jambu itu menatap Sasuke heran. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan rasa bersalah. Justru raut bingung yang terpeta dalam wajahnya. "Mana mungkin." jawabnya polos.

Sasuke mati-matian mempertahankan image cool-nya. Namun rupanya tidak berguna di hadapan gadis berambut merah jambu tersebut. Rasa kesal semakin terlihat dalam air mukanya. "Lantas? Mengapa kau justru mengarahkanku ke tempat ini?"

"Ohh…" Gadis itu membulatkan bibir mungilnya seraya tertawa geli. Sedetik kemudian, ia melirik Sasuke dari sudut matanya, "Aku hanya ingin menunjukkan danau ini padamu. Indah, bukan?" ujarnya dengan wajah berseri-seri.

Sasuke membuang muka. Ia tak menjawab pertanyaan Sakura yang ditujukan padanya barusan. Ia pun bendiri menyandar pada Jaguar-nya. Kedua tangannya dilipat di dada. Matanya menelusuri lingkungan di sekitarnya.

Sakura mengalihkan perhatiannya kembali ke arah danau, "Aku langsung menyukai tempat ini begitu pindah ke Konoha. Di musim semi, pasti danau ini akan terlihat indah." Ia rentangkan kedua tangannya sembari menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. "Mendengar gemericik air. Memberi makan angsa. Menaiki perahu di atas danau. Pasti menyenangkan." Sakura terus berceloteh meski ia sadar bahwa Sasuke tidak akan menghiraukannya.

Tiba-tiba gadis itu membuka mata, "Ah. Dan satu lagi." serunya. Ia berlari ke arah sebuah pohon yang berada di dekat tempatnya berdiri semula. Ia sentuh batang kokoh pohon itu dengan tangan kanannya. "Pohon ini, pohon Sakura." Kemudian, perhatiannya kembali teralih pada Sasuke, "Apa kau bisa membayangkan betapa beruntungnya, ketika kau menikmati hiburan danau ditambah pemandangan bunga Sakura yang berguguran?"

Sasuke lagi-lagi membuang muka. Meski ia tampak tidak peduli, namun sebenarnya ia mendengarkan dengan seksama semua ucapan gadis itu. Suara Sakura kata demi kata terus berdengung dalam telinganya.

Seketika mata emerald Sakura membuka nanar. Senyumnya mereda. "Tidak seperti musim dingin. Yang selalu menutup semua keindahan." Suaranya menggumam pelan, "Dan membawa kesialan bagiku…"

Sasuke tertegun. Ia lirik Sakura dari ekor matanya. Memori masa lalu mulai berkelebat dalam benaknya.

.

-flashback-

'Aku benci musim dingin!'

Cih! Sasuke mencibir dingin. Seketika ia alihkan perhatiannya dari gadis kecil yang terpaut satu tahun lebih muda darinya tersebut.

Itachi tercenung. Kedua bola matanya terpaku pada sebuah coretan yang ditulis gadis berambut merah jambu di hadapannya. "Sakura? Mengapa kau membenci musim dingin? Padahal tadinya, kami mau mengajakmu bermain perang lempar salju." tanyanya dengan mimik muka kecewa bercampur heran.

Gadis berambut merah jambu itu, mengerucutkan bibirnya. Wajahnya bertekuk. Tampaknya ia memang benar-benar membenci musim dingin. "Musim dingin selalu membawa sial!"

Itachi menautkan kedua alisnya. Ia melirik Sakura menyelidik, "Sial bagaimana?"

Gadis itu menunduk. Air mulai berkumpul di pelupuk matanya. Tatapannya sendu─seakan menyimpan rasa sedih yang teramat sangat, "Otousan meninggal di musim dingin…"

-flashback end-

.

Ingatan itu masih teramat jelas tersimpan dalam memori otaknya. Seketika, tatapan pemilik mata onyx tersebut─ melembut. Wajah sedingin es-nya sedikit mencair berkat ingatan itu. Hati kecilnya merasa sedikit iba.

"Hei Sasuke. Apa kau tau? Seseorang pernah memberitahuku sebuah mitos kecil tentang pohon Sakura ini." seru Sakura lantang─ berharap Sasuke dapat mendengarnya.

Sasuke mengerutkan keningnya. Ia melirik bingung ke arah Sakura yang mulai ceria kembali. Terkadang ia merasa heran terhadap gadis berambut merah jambu tersebut. Sama seperti dulu. Sifatnya selalu bisa berubah dalam sekejap.

Sakura mengembangkan senyumnya. Ia terlihat sangat bersemangat menceritakan sebuah mitos yang ia dengar dari seseorang─ tempo hari. "Mitos itu mengatakan jika kau menyentuh batang pohon seperti ini." Sakura menyentuh batang pohon di sampingnya─dengan telapak tangannya. "Lalu memejamkan mata, dan membayangkan seseorang yang sangat ingin kau temui. Maka ketika kau membuka mata, orang itu akan berada di hadapanmu." Kemudian, gadis itu menolehkan kepalanya pada Sasuke, "Kau percaya, Sasuke?"

Sasuke hanya bisa menghela nafas berat. Mana mungkin ia percaya pada hal-hal semacam itu. Dengan sikap dinginnya, ia mengambil sebuah kunci dari sakunya. "Ayo pulang." Pemuda itu membuka pintu mobilnya.

Sakura berusaha mencegah, karena ia masih ingin berada di tempat itu. Namun karena Sasuke tampak tidak menggubrisnya, ia pun mencoba berlari untuk menahan langkah lelaki yang mulai masuk ke dalam mobil itu. Karena tumpukan salju yang sedikit menghalangi hentak kakinya, keseimbangannya pun pecah. Dan alhasil ia terjatuh pada tumpukan salju di atas tanah. Sakura merintih kesakitan seraya memegangi lututnya yang mulai mengalirkan cairan merah pekat.

Sasuke menarik nafas. Ia putar bola matanya─ malas. Ia pun menghampiri Sakura dan membantunya berdiri. "Merepotkan." desisnya lirih.

Sakura merasakan pipinya bersemu ketika Sasuke menarik lengan kanannya dan menempatkannya setengah melingkar di bahu lelaki tersebut. Wajahnya semakin memanas ketika Sasuke memeluk pinggangnya dan memapahnya menuju mobil.

'Kami-sama… Tolong hentikan waktu… Aku ingin tetap berada di sisi Sasuke seperti ini…'

-


Lelaki berambut raven itu memapah Sakura hingga ke dalam rumah, dan mendudukkannya di sofa hijau milik gadis itu. Sejurus kemudian, ia berbalik─ beranjak pergi dari tempat itu. Namun entah gerangan apa yang menahannya untuk mengurungkan niat tersebut. Ia kembali melangkah mundur dan menatap mata emerald Sakura sekilas, "Dimana kotak P3K?"

Sakura tersenyum lembut. Tadinya ia mengira Sasuke akan langsung pulang tanpa mempedulikan luka di lututnya. Namun rupanya Dewi Fortuna sedikit berpihak padanya kali ini. Sakura pun menunjuk sebuah kotak putih di sudut ruang tamunya.

Sasuke mengambil sebuah obat merah dan mengoleskannya di lutut Sakura. Seusai mengobati, ia berkata dingin─ tanpa menatap Sakura, "Istirahatlah. Aku pulang." Sasuke mulai melangkahkan kakinya.

"Sasuke." panggil Sakura tiba-tiba─ lelaki yang dipanggil memberhentikan langkahnya tanpa berbalik. "Arigatou…" ucap gadis itu tulus.

Sasuke sempat terdiam sejenak. Namun kemudian, sebuah kata "Hn." meluncur dari bibirnya. Ia kembali melangkah keluar.

Semburat merah tertera di kedua pipi Sakura. Ia memegangi kedua pipinya─ berharap rasa panas di kedua pipinya tersebut sedikit berkurang. Hari ini ia sungguh merasa menjadi gadis paling beruntung sedunia. Sebuah momen termanis yang pernah ia lalui bersama Sasuke hari ini─ tidak akan pernah ia lupakan selama hidupnya.

-


To be continued

Artikel Terkait