Senin, 09 November 2009

My Love Story


Sudah kegiatan rutinku, duduk di meja nomor 9 ini. Meja yang terletak di sudut ruangan. Memang tempat yang cukup strategis untuk melihatnya tampil, tanpa diketahui. Setiap hari Sabtu dan Minggu, ia selalu tampil menyanyi di café ini. Itulah alasan mengapa aku selalu menyempatkan diri untuk berdiam diri di café ini selama beberapa menit hanya untuk melihatnya bernyanyi. Kemudian, aku berjingkat pergi, saat penampilannya telah usai.

Dennis.

Seseorang yang selalu menjadi dewa pelindungku. Dia selalu menolongku dari sasaran jahil anak nakal. Dia selalu membuatku tertawa dengan leluconnya. Dia selalu membuatku kagum akan kedewasaannya. Dia adalah sosok yang begitu sempurna buatku. Dan aku menyukainya... Namun pahitnya kenyataan membuatku untuk terus menekan perasaan suka itu. Dia sudah punya pacar.. Dan tentu saja bukan aku orang yang beruntung untuk menjadi kekasihnya.

“Prisa?”

Aku segera tersadar dari lamunan saat seorang memanggilku. Kutolehkan kepalaku. Dan.. Oh Tuhan! Dennis! Dia berjalan menghampiriku! Kurutuk nasibku dalam hati. Mengapa bisa sampai ketahuan??

“Akhirnya ketauan juga lu, nonton gue!” ujar Dennis seraya memamerkan gelak tawanya. Selama beberapa detik aku sungguh terpesona. Namun, segera kutepiskan. Ini saat-saat genting plus gawat. Seharusnya aku panik! Bukannya terpesona!

Dennis menghentikan tawanya saat menyadari aku hanya diam menanggapinya, “Pris, kamu kenapa?”

Aku terbelalak saat melihat wajahnya yang begitu cemas. Apa dia mengkhawatirkanku? Aku pun hanya bisa tertawa dalam hati. Itu sungguh tak mungkin, Prisa. Sadarlah..

Selang beberapa saat, seorang perempuan seumuranku datang menghampiri kami dan memuji penampilan Dennis. Dennis pun tampak riang, seakan sangat berterima kasih pada gadis itu karena telah menontonnya. Setelah itu, mereka ngobrol. Terlihat sangat akrab.. Dan aku hanya bisa jadi kambing congek disitu.

Kuamati perempuan itu dari atas hingga bawah. Dan entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja otakku terpenuhi dengan perasaan aneh… Mungkinkah... Mungkinkah ia adalah perempuan yang selama ini disebut-sebut sebagai ‘pacar’ Dennis? Mengapa aku tak menyadarinya dari awal?!

Tanpa kusadari air mataku bergulir jatuh. Dennis yang tanpa sengaja melihatnya, terkejut. Segera kuseka air mataku dan beranjak pergi dari tempat itu. Dennis memanggilku. Namun, aku tak mau berbalik. Hatiku pedih melihat semua ini. Aku merasa, selama ini begitu sia-sia sikapku yang selalu memperhatikannya. Aku merasa bodoh… Sungguh bodoh…

Beberapa hari terlewat semenjak kejadian itu. Aku sama sekali tak pernah bertemu lagi dengannya. SMS-nya pun tak pernah kubalas. Aku sudah lelah harus berhubungan dengannya, jika ini hanya akan menambah kekecewaanku saja. Kulirik sekilas kalender di dinding kamarku. Tunggu dulu.. Apa aku salah ingat? Hari ini ulang tahun Dennis!

Segera kusambar kunci mobilku dan berlari keluar rumah. Kuambil mobilku dan kukendarai menuju pantai.

“Di ulang tahun ke-17ku, berjanjilah kau akan datang.”

Tentu saja aku tak pernah lupa pada janji yang kami buat setahun yang lalu. Saat itu, karena kepikunanku, aku lupa pada hari ulang tahunnya. Lalu, dia pun mengajukan sebuah permintaan agar aku datang di hari ulang tahun berikutnya di pantai itu. Sebuah pantai tempatku pertama kali bertemu dengannya.

Selama perjalanan, aku bertanya-tanya. Mengapa aku bisa sepanik ini hanya karena masalah sepele? Bukankah aku telah berniat untuk melupakannya, dan menutup pintu hatiku darinya? Namun, mengapa yang terjadi saat ini justru sebaliknya?

Sesampainya di pantai, tak kudapati seorang pun disana. Kulihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 11.00 PM. Satu jam lagi hari ini akan berganti dengan hari yang lain. Dan janji itu akan tertutup sebelum sempat kutebus.

Kurogoh saku jaketku untuk mengambil ponsel. Paling tidak, aku masih bisa mengucapkannya lewat telepon. Tapi.. tak kudapati ponsel di sakuku. Aku terlalu terburu-buru tadi, sehingga lupa membawa ponsel.

Aku tak tau lagi harus berbuat apa. Terbayang dalam benakku jika ia akan marah dan tak mau bertemu denganku. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Yang kuinginkan hanya satu. Dia hadir dengan senyum riang seperti biasanya. Perasaan kecewaku padanya beberapa hari yang lalu telah kubuang jauh-jauh. Tak apa jika memang aku tak bisa memilikinya sebagai seorang pacar. Tapi biarkan aku memilikinya sebagai seorang sahabat..

Tiba-tiba, suara petikan gitar terdengar di belakangku. Kutolehkan kepalaku dan kudapati Dennis menghampiriku sembari memainkan gitarnya. Dia menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang sangat asing bagiku. Tapi aku bisa menebak, jika itu lagu baru yang ia ciptakan.

Setelah mengakhiri lagunya, Dennis menanyakan pendapatku mengenai lagu barunya. Kuancungkan dua buah jempol untuknya. Ia tertawa bangga. “Kamu yang pertama kali mendengarnya loh.. Berterima kasihlah padaku.” ucapnya.

Aku sangat lega.. Amat sangat lega.. Dia sama sekali tak marah padaku. “Happy Birthday..” ucapku lirih.

Dennis tersenyum dan mengacak rambutku. “Thanks..”

Kemudian, kami mengobrol. Dia bercerita tentang pacar yang selama ini ia rahasiakan dariku. Aku tak menyimaknya. Dadaku sungguh terasa sesak kali ini. Sebenarnya aku masih tak rela jika harus melepasnya. Tak bisa kupungkiri, bahwa ternyata aku masih menyukainya. Aku sangat menyukainya..

“… Jadi?” tanyanya.

Aku tergagap karena tak tau apa yang dia tanyakan. “Hah?”

“Aku suka kamu..” ucapnya pelan. Namun, ucapan itu terasa sangat bergema di telingaku. Kututup mulutku tak percaya. Apa ini semua hanya mimpi? Tiga patah kata yang sangat kutunggu-tunggu, akhirnya keluar dari mulutnya. Tapi.. Tunggu. Ini salah. Mengapa ia mengatakan itu. Bagaimana dengan perempuan yang aku temui di café tempo hari?

Dennis yang mengerti kebingunganku, bertanya, “Lo gag dengerin cerita gue?”

Kemudian, Dennis menjelaskannya kembali. Bahwa ternyata pacar yang ia sebut-sebut selama ini, sebenarnya tak ada. Itu hanyalah sebuah karangan belaka saja. Dennis juga menegaskan bahwa perempuan yang ada di café saat itu, hanyalah teman lamanya saja. Ia pun mengatakan sebuah alasan yang sukses membuat wajahku memerah. Bahwa selama ini… Ia memendam perasaan sukanya padaku. Sehingga ia menciptakan suatu kebohongan dengan status ‘berpacaran’ agar tak ada perempuan lain yang mendekatinya.

Kutatap kedua matanya yang terlihat menunggu jawaban dariku. Kugulung senyumku dan kuanggukkan kepalaku, “A..Aku juga suka kamu, Dennis..” ucapku terbata.

Sekejap kemudian, Dennis tertawa lebar. Ia mengacak rambutku lembut. Lalu, ia kembali memetik dawai gitarnya, dan menyanyikan lagu ciptaannya. Tak seperti biasa… Kali ini, terdengar amat sangat merdu. Layaknya dawai cinta yang dipetik oleh malaikat-malaikat kecil yang menyaksikan kebersamaan kami…


I’m always walking on my own
My heart is filled with emptiness
But she come
And never make me lonely again

I also waiting for you
we’ll hold our hands like this
and quietly watch the sky
share our love

F.I.N

Artikel Terkait