Sabtu, 06 Juni 2009

True Love - Chapter 1


BRUKK!!

Tubuhku terhempas jatuh diatas trotoar. Kurasakan rasa sakit di kening dan kakiku. Seorang laki-laki berambut kuning mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri, “Sakura-chan, kau baik-baik saja?”

Kuanggukkan kepalaku seraya menyambut uluran tangannya. Kemudian, kulayangkan kepalan tanganku ke tiang listrik di depan mataku. “Dasar tiang bodoh!!”

Namun, bukan rasa puas yang kudapatkan, justru rasa sakit yang kudapatkan. Aku hanya bisa meringis kesakitan memegangi punggung tanganku yang mulai memerah.

Laki-laki disampingku pun panik melihatku yang hampir menangis, “Gyaaa!! Sakura-chan!! Tanganmu sakit?! Apa yang harus kita lakukan?! Aduh... Panggil ambulan atau langsung ke UGD?! Saku―”

“Naruto!!” Kupotong ucapannya agar dia berhenti bicara yang tidak-tidak. Kulihat wajahnya yang terlihat begitu khawatir. Kemudian, kutarik senyum di bibirku untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, “Aku tak apa-apa.”

Naruto pun menghembuskan nafas lega, “Syukurlah... Kau bisa jalan?”

Kuanggukkan kepalaku meskipun kakiku terasa sangat sakit. Aku tak mau membuatnya repot. Namun, begitulah Naruto. Dia terlalu peka terhadap hal-hal di sekitarnya. Dia sama sekali tidak menggubrisku. Mungkin ia sadar kalau kakiku sakit. Dia pun membimbingku jalan dengan hati-hati.

Bisa jalan bersamanya sedekat ini... Aku sangat bahagia...

-

“Dasar bodoh! Kenapa bisa sampai nabrak tiang?” ujar Sasuke sambil mengobati tanganku yang luka.

DASAR SASUKE BODOH!!

Bukannya kasihan, justru marah-marah. Huff... Naruto juga sih. Kenapa harus ada acara mendadak. Padahal, aku sangat menginginkan dia yang mengobatiku. Bukan Sasuke cerewet ini!!

“Lagipula, apa sih yang kau pikirkan? Kau pikir, tiang itu bantal? Sekuat apapun, kau tak akan bisa merubuhkan tiang!” lanjutnya sambil memasukkan kakiku ke dalam baskom yang berisi air hangat.

Kenapa dia sama sekali tak punya rasa prihatin?!, batinku. Aku hanya bisa marah-marah dalam hati.

“Mmm .... Sakura...” panggilnya tiba-tiba. Kepalanya tertunduk ke bawah, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. “Lain kali hati-hati ya?” ucapnya pelan.

Keningku berkerut, heran. Baru kali ini, Sasuke mengatakan itu padaku...

-

Malam telah larut, namun mataku tak kunjung bisa tertutup. Kubaringkan tubuhku di atas kasur dan kuambil sebuah foto dari laci mejaku. Kutatap lekat-lekat 3 orang yang ada di foto tersebut. Aku, sasuke, dan Naruto...

Kami bersahabat sejak kecil. Sasuke dan Naruto, adalah orang yang sangat penting dalam hidupku. Terlebih lagi Naruto. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah sosok yang sangat baik, dengan kekonyolannya yang selalu membuatku tertawa. Dia selalu mendukung apapun yang kulakukan. Aku sangat menyukainya... Sebenarnya, aku tak ingin persahabatan ini rusak hanya karena rasa sukaku ini. Namun, aku tak bisa menekan perasaanku pada Naruto. Semakin hari, rasa suka ini semakin bertambah. Dan aku ingin memilikinya, lebih dari seorang sahabat.

Kutatap seorang laki-laki berambut hitam di foto itu. Dia adalah Sasuke. Dia orang yang sangat dingin dan selalu mengakhiri ucapannya dengan kata ‘bodoh!’. Dia selalu marah jika aku ceroboh. Dia selalu marah jika aku terluka. Dia selalu marah jika terjadi sesuatu yang buruk padaku. Namun, dibalik semua kemarahan dan kata bodohnya itu, aku yakin kalau jauh di dalam hatinya, dia orang yang sangat baik.

-

Kuteliti kalender di dinding kamarku. 13 Februari! Berarti besok adalah hari valentine. Aku harus segera menyiapkan coklat untuk Naruto! Di hari valentine ini, aku telah membuat suatu keputusan. Aku akan menyatakan perasaanku padanya...

Aku segera pergi ke toko coklat yang ada di dekat stasiun. Bahan-bahan untuk membuat coklat langsung kumasukkan ke dalam keranjang, dan langsung kubayar ke kasir. Namun, saat aku keluar dari toko coklat itu, hujan lebat menahanku. Terpaksa, aku harus menunggu sampai hujan reda.

Kurasakan dingin mulai menyelimutiku. Maklum, saat ini musim dingin. Kurapatkan mantelku untuk mengurangi rasa dingin ini. Tapi, aku tetap kedinginan. Akhirnya, kuputuskan untuk lari melewati derasnya hujan, agar secepatnya sampai di rumah. Namun, baru beberapa langkah aku berlari, ada seseorang yang menarik tanganku untuk menepi. Dia adalah Sasuke.

“Apa yang kau pikirkan, bodoh?!” bentaknya. “Dengan tubuhmu yang lemah itu, kau mau hujan-hujanan? Kau sudah bosan hidup?!”

Lagi-lagi mengataiku bodoh dan memarahiku, gerutuku dalam hati. “Apa hanya kata bodoh yang bisa kau ucapkan padaku?” ucapku tajam padanya.

Kulihat matanya yang terbelalak kaget. “Kenapa kau tak pernah bisa seperti Naruto. Kita bersama sudah sepuluh tahun kan? Tapi kenapa kau tak bisa mencontoh sifatnya?!” ujarku sembari terus menahan air mataku tidak keluar. Kulihat mata hitamnya yang masih terbelalak kaget.

Kutundukkan kepalaku, untuk menyembunyikan wajahku yang sudah hampir menangis. “Naruto tak pernah sekali pun mengataiku bodoh. Dia tak pernah memarahiku. Sedangkan kau? Berapa kali kau mengataiku bodoh? Berapa kali kau memarahiku? Apapun yang kulakukan, selalu salah di matamu.” Seluruh kata-kata yang ada di otakku langsung keluar begitu saja dari mulutku. Aku sadar, tak sepantasnya aku membeda-bedakan mereka berdua. Tapi, aku ingin agar Sasuke mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.

“Aku ingin pulang.” ujarku tertunduk.

Dia melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tanganku. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Berat rasanya untuk melihat ekspresi wajah Sasuke saat ini. Apa dia marah? Hmm... Tentu saja. Bagimana pun juga, aku sudah berbicara keterlaluan.

Kulangkahkan kakiku untuk beranjak pergi dari tempat itu. Satu langkah, tak ada panggilan sama sekali darinya. Dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, dia sama sekali tak memanggilku kembali. Kurasa dia memang benar-benar marah. Air mata yang sedari tadi kubendung, mulai jatuh satu persatu, menetes bersama turunnya hujan.

Namun tiba-tiba... seseorang yang memelukku dari belakang. “Maafkan aku.” ucapnya lirih.
Aku tau suara ini. Sasuke... Tangisku pun meledak.

“Maafkan aku, Sakura.” ulangnya. “Aku tak pernah sadar bahwa ini sangat menyakitimu...”

Tangisku semakin keras.

“Tapi itu semua kulakukan, karena aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tau, dari kecil kau sangat ceroboh. Mungkin, jika aku memarahimu, kau akan berhenti melakukan kecerobohan itu. Aku tak ingin kecerobohanmu itu menjadi sesuatu yang buruk padamu.” ucap Sasuke pelan.

Akhirnya aku mengerti. “Maafkan aku, Sasuke...” isakku.

Sasuke memelukku semakin erat. Entah mengapa, aku merasa sangat nyaman saat ini. Dan satu yang tak kusadari saat ini, jantungku berdegup sangat kencang...



--to be continued--


Artikel Terkait